Sabtu, 26 Februari 2011

WIND OF CHANGE

“Aku tak peduli dengan orang yang tak peduli, aku tak mau dengan orang yang tak mau, dan aku akan acuh pada orang yang acuh.” Itu adalah motto hidupku sewaktu aku adalah orang yang cukup ‘waras’ untuk berfikir.
Aku memang adalah orang yang sedikit kaku untuk bersosialisasi, aku memang orang yang sangat acuh pada keadaan dan ingin berjuang sendirian tanpa ada orang-orang yang sebenarnya harus dirubah pola pikirnya, aku ingin hidup bersama orang-orang yang kusanyangi tanpa ada satupun orang yang menghentikan langkahku. Aku sadar, dalam hidup untuk mencapai sebuah kemenangan pasti ada kepahitan disana, tapi aku sangat menginginkan apa yang aku katakan tadi, dan itu jelas tak mungkin terjadi. Memang motto hidupku yang dulu seperti itu, mungkin aku bisa begitu karena aku tidak percaya pada siapa-siapa, dulu kunilai orang-orang dalam hidupku itu adalah pengganggu dan sangat tak bisa kupercayai, bahkan sering menyakitkan hati. Baik itu teman, guru, adik, bahkan keluarga. Tapi, satu orang berhasil mengubah pola pikirku…
Akhir-akhir ini aku sangat depresi, aku membenci kelasku sendiri karena ketidak seriusan mereka dalam belajar dikelas, yang kerjanya hanya ribut tanpa sama sekali menghargai guru yang sedang mengajar dan tidak hanya itu, banyak keonaran yang diperbuat sehingga seluruh warga disekolahku mengecap bahwa kelasku adalah kelas terburuk. Itu membuatku segan menjadi salah satu anggota dari kelasku, saat itulah aku mendeklarasikan motto hidupku. Beberapa waktu yang lalu, wali kelasku sudah dibikin jengkel bukan main oleh kami, dan segera merombak struktur keorganisasian kelas, aku berharap akan terjadinya perubahan. Aku terpilih dan dalam organisasi kelas yang baru, mereka bilang mereka akan berubah dan membangkitkan nama kelas yang sudah karam itu.
Buktinya masih kosong, mereka mengabaikannya. Aku memilih untuk tidak mau banyak bersosialisasi dengan beberapa orang sekelasku dan lebih baik berkawan dengan kawan yang berbeda kelas, memang kawanku yang berbeda kelas memang banyak ketimbang orang-orang dikelasku. Aku sangat acuh dengan kelasku, “Masa bodoh kelasku mau seperti apa, yang penting aku harus berjuang sendiri menghadang arus ini” pikirku dalam hati.
Suatu hari, aku diajak untuk bergabung dalam film yang akan dibuat kakak kelasku, katanya film ini adalah film angkatan yang akan dikenang selamanya, begitu katanya dan aku setuju saja. Disuatu siang, dikantin sekolah temanku sedang mengobrol dengan kakak kelasku itu, dia terlihat sedang berdebat. Aku tak mengerti apa yang mereka perbincangkan, didalam kelas aku bertanya padanya, “Tadi apaan sih yang diobrolin dikantin?” “Itu, dia ngajak main film tapi dengan cara maksa ya… gimana lagi…” jawabnya.
Pulangnya, aku harus rapat dulu dengan sebuah klub yang bertemakan kreatifitas. Klub itu akan menyelenggarakan acara dalam waktu yang dekat ini. Aku adalah ketua dalam acara tersebut, aku akui aku masih kaku untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, aku belum bisa memutuskan secara benar. Memang aku selalu ingin jadi pemimpin, tapi hanya saja aku belum tahu ilmunya. Aku akui, aku masih sering bicara saja tapi tidak bertindak benar.
Selesai rapat itu, aku bertemu dengan kakak kelasku, “Sudah kuputuskan, untuk film nanti aku gak akan mengajak kelas sepuluh lagi. Dan kamu jadi pemerannya ya” Katanya dengan nada kecewa, karena mengetahui hanya ada sedikit kelas sepuluh yang ikut dalam film angkatan yang ingin dia buat. “Sudah kubilang, kebanyakan dari kelas sepuluh sekarang adalah orang-orang yang gak kreatif dan gak mau kreatif.” Keluhku. Dengan spontan dia menjawab, “Lalu kenapa? Kenapa kamu gak mengajak mereka untuk kreatif?” “Karena itu, banyak sekali orang yang begitu, apalagi dikelasku. Mungkin dari seluruh kelas sepuluh ada yang harus dikurangi.” Ujarku. “Kenapa dikurang? Ditambah dong!” jawabnya. Aku kebingungan dengan jawabannya.
“Kenapa angkatan kalian kayak gitu?” aku menggeleng bingung. “Soalnya diangkatan kamu gak ada orang kayak kita” ujarnya. “Apa maksudnya?” tanyaku bingung, “Ya kayak kita, gila…” “Gila?” aku bertanya dalam hati. “Di angkatan kamu gak ada penggerak sih… penggerak yang mengajak seseorang untuk keluar dari kebiasaan, coba aja… pernah gak di angkatan kalian waktu nasyid sampe solat segala ditengah panggung?” kata kakak kelasku, “Atau pernah gak shalawatan sambil nari-nari gak jelas ditengah panggung?” kata kakak kelasku yang satu lagi. Itu hal tergila yang pernah kudengar, aku sangat terinspirasi oleh kata-katanya.
Mulai detik ini akan kuubah motto hidupku menjadi, ‘Akan kucoba menjadi penggerak bagi mereka.’ Mungkin kata-kata itu saja yang bisa kutambahkan, aku tahu waktuku dikelas XA tinggal 4 bulan lagi, akan kucoba untuk menjadi penggerak mereka walaupun kutahu dalam waktu yang 4 bulan ini tidaklah mudah. Terima kasih sudah mengubahku, aku ingin seperti kalian, seorang yang gila, seseorang yang gila tapi waras. Aku sadar, tak ada orang bisa merubah suatu keadaan sendirian. Aku sadar, tak bisa seseorang lari begitu saja dari suatu keanggotaan hanya karena beberapa orang bermasalah baginya.  Terima kasih sudah menginspirasiku AHMAD ZAKI GHIFARI-senpai  dan KASYFURRAHMAN-senpai…

TERIMA KASIH TELAH MENGUBAH POLA PIKIRKU
WIND OF CHANGE
SELALU BERSAMA KITA

Selasa, 15 Februari 2011

PROSES YANG PAHIT

Sebenernya ini cerita yang kualami kemarin, di sebuah sekolah yang bernama SMA Plus Muthahhari, sedang diselenggarakan acara perlombaan untuk memperingati Maulid Nabi. Di setiap perlombaan itu, masing-masing kelas harus ada perwakilannya. Salah satu perlombaannya adalah nasyid.

Hari itu hari sabtu, aku datang kesekolah hanya untuk mendownload antivirus (gak bener banget) dan menyerahkan gambar pada temanku yang kebetulan dia ikut lomba TIK, aku menyerahkan gambar itu sudah beruba JPG. Begitu aku sampai disekolah tiba-tiba temanku, Benazir. Dia juga adalah KM kelas XA, yaitu KM kelasku. Dia datang menghampiriku, "Wildan, tolong kasih tau yang lain, ya besok kita bakal latihan untuk nasyid." Aku mengiyakan, dia berterima kasih dan segera pergi, mungkin dia sedang ada urusan yang lain.

Aku masuk kedalam sekolah dan mencari teman-teman yang harus kukabarkan. Kukabarkan mereka yang belum tahu, mereka menyambutnya dengan keluhan, "Haaahhh... kenapa sih harus besok? Padahal hari itu aku pengennya libur!" "Kenapa sih harus mendadak?" kata mereka. Aku tidak mempedulikan keluhan mereka dan segera membuka laptop, dan segera mendownload antivirus yang aku inginkan. Tapi hasilnya belum terdownload, karena waktu yang cuma sebentar dan aku harus pulang.

Esok harinya aku mengabarkan pada temanku Albian, aku tidak bisa datang karena harus memebeli kacamata yang baru. Aku tak tahu apa yang terjadi hari itu disekolah.

Hari Seninnya aku datang kesekolah dan segera menemui teman sekelasku Hanif. Aku bertanya padanya, "Nip, hari ini kita mau bawain lagu apa?" dia menjawab, "Pastinya lagu pertama Alfa Salam. Tapi lagu kedua aku gak tau apa?". Saat itu aku melihat kelas lain yang latihan bersama-sama dengan anggota kelas lainnya, mereka begitu kompak. Andai kelasku seperti itu... khayalku.

Beberapa puluh menit kemudian teman-teman XA datang, "Ayo kita latihan yuk" ajak Benazir. Kami mencari kelas yang kosong, betapa terkejutnya aku ketika mendengar obrolan mereka, "Jadi lagu keduanya mau apa?" itulah yang sangat bingung. "Berarti kemarin latihan atau enggak?" pikirku. Beberapa detik kemudian bel tanda masuk berbunyi, diskusi dibubarkan. Kami berkumpul di halaman sekolah untuk mengabsen, untunglah nasyid adalah perlombaan yang paling terakhir, aku sedikit lega. Aku ikut lomba adzan yang sebenarnya itu juga aku menggantikan Albian, karena dia ikut lomba fashion show yang waktunya bersamaan dengan adzan.

Lomba adzan selesai, untungnya aku masih sempat melihat lomba fashion show itu. Aku bertanya lagi pada Hanif "Nip, tadi latihan gak? Udah dapet lagu keduanya?" tidak menggeleng. Hatiku menjadi sedikit kesal. Aku menemui Benazir seolah aku ingin ngambek padanya. Waktu terus bergulir, kepanikanku bertambah. Acara sudah masuk pada lomba nasyid, saat itu kami belum terpikir lagu apa. "Temen-temen yang lain kemana sih?" tanyaku pada Hanif, "Gak tau tuh..." Hanif juga sudah mulai kesal. Mereka menghilang, seolah mereka hilang tanggung jawab pada kelasnya.

Aku bertanya pada Benazir, dia menjawab mereka di rumah seorang teman kami yang rumahnya tidak jauh dari sekolah. Aku dan Benazir menyusulnya. Sesampainya di rumah teman kami itu, Benazir mengetuk pintu, pintu dibuka ternyata itu salah satu teman kami. "Ayolah, kita kesekolah sekarang! Ayo kita tampil!" bujukku, "Terus nanti kita mau ngapain di panggung? Musik gak ada, yang bisa main musik gak ada. Latihan pun kita enggak" jawabnya. Aku kesal bukan main dibuatnya, "Kok gitu sih? Kok kamu gak ada tanggung jawabnya sama sekali untuk kelas kita?" tanyaku padanya dengan nada marah tapi datar. Dia terlihat bingung, "Kamu masih anggota XA? Tapi mana tanggung jawabmu?" tambahku. Dia masih menjawab dengan jawaban yang sama. Aku kesal, "Udahlah kalian duluan aja nanti kami nyusul, kok" balasnya. Aku meninggalkan rumah itu dan segera menuju sekolah dengan perasaan kesal.

"Gimana?" tanya Albian. Aku menjawab apa adanya saja. Dia terlihat kesal juga, aura negatif membalut kami. Kata-kata kasar terlontar dari mulutku, aku terus berdoa untuk dipanggil di akhir saja. Aku mau menyusul lagi Benazir, Aku melihatnya dan kudekati dia, "Gimana, Ben?" tanyaku. "Mereka gak mau" jawab Benazir, matanya sudah berkaca-kaca. Aku kasihan melihat Albian dan Benazir, "Kita ngomong aja ke Pak Budi aja ya" ajak Hanif, Pak Budi adalah wali kelas kami yang juga juri dalam lomba nasyid itu. Semuanya terlihat stress.

 Hanif mengajakku untuk mengobrol sebentar, "Terus sekarang kita gimana? Mau apa sekarang?" kata Hanif yang sudah stress. Tiba-tiba datang Benazir duduk disebelahku. "Kita ngomong aja ke Pak Budi aja, yuk!" ajak Benazir. Aku masih berfikir, tiba-tiba " Terus apa yang pengen kamu bilang ke Pak Budi? Kamu mau nyerah?" Benazir melihatku seakan itu adalah jawaban 'ya'. "Mau latihan, udah gak sempet" kata Hanif yang sudah tidak bisa berfikir lagi. "Kalian mau menyerah? Terus percuma dong... lama-lama kita disekolah cuma mau bilang nyerah. Sedari tadi kita masih seorang WINNER, karena masih mau bertahan disekolah tanpa persiapan. Terus kamu mau nyerah? Kalau gitu kita sama dengan mereka yang kabur itu, seorang LOSER yang hanya berani merencanakan tapi tidak berani melakukan." mereka mendengarkanku.

"Mungkin memang benar nanti penilaian guru-guru dan seluruh warga Muthahhari terhadap XA bakal buruk. Tapi pastinya dari buruknya itu ada mengecualian. Kelas XA memang buruk, kecuali mereka yang kemarin berani tampil." kataku, tiba-tiba "Ayo! Kita mau latihan dimana?" Benazir terlihat semangat lagi, beruntung ada 3 orang yang ikut dengan usulku. Kami latihan, tiba-tiba datang Bimo dan Nauval. Kami mengajaknya untuk latihan, tiba-tiba panggilan untuk XA terdengar. Kami keluar menuju panggung,  orang-orang bingung melihat kami yang hanya ber-6. Vokal 5 orang dan musik 1 orang. Albian bersiap dengan jimbenya.

"Assalamu alaikum wr.wb" aku yang membuka. "Kami dari XA, meskipun bersedikitan, tapi pasti kita bisa, ya?" tanyaku pada teman-teman. Penonton memberikan ratusan tepuk tangan untuk kami. Aku awalnya merasa tegang, tetapi selanjutnya biasa saja. Lagu pertama selesai, lalu masuk ke lagu kedua. Kami membawakan lagu Tombo Ati-Opick. Aku membukanya dengan intronya, terlihat dan terdengar ratusan tepuk tangan tertuju pada kami. Di lagu kedua aku banyak kesalahan, tapi untunglah teman-teman menutupi kesalahanku. Dan akhirnya selesai. Semua menyoraki kami, aku duduk di kursi penonton. Aku mendapatkan sambutan positif, "Wildaaaannn... suaramu bagus sekali!" kata seorang kakak kelas dan disusul dengan yang lain. Aku bingung, 'Suaraku bagus?' pikirku. Sambutan positif tertuju pada kami. Aku merasa sangat bersyukur, aku menyalami teman-temanku yang sudah tampil bersamaku. Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku.

Segala sesuatu apabila ingin bahagia, pasti harus melaui proses yang pahit terlebih dahulu. Tapi kebanyakan orang ingin bahagia tapi dia tidak mau menjalani prosesnya, dan hasilnya ironis yang dia dapat adalah kesengsaraan. Untuk semua yang membaca artikel ini, sebuah kata-kata dariku. "Apabila kamu kamu ingin mati bahagia, lakukan proses perih. Tapi bila ingin mati sengsara, lakukan proses yang membuatmu bahagia (tidak mau mengambil resiko)

TAMAT

Sabtu, 12 Februari 2011

Beautiful Childhood


                   “Si Ridwan mana, ya? Katanya mau pulang bareng? Kemana tuh anak?” kata Haerul  agak kesal. Haerul menyusuri koridor sekolah, kantin, perpustakan. “Ngapain aku ke perpus? Dia kan jarang baca buku?” Haerul keluar dari perpustakaan sekolah. Haerul mulai mencari temannya itu       , dia menemukannya sedang tidur-tiduran di pekarangan belakang sekolah yang penuh dengan rumput yang empuk apa bila tidur diatasnya. “Itu, kan si Ridwan, ngapain dia disitu?” gumam Haerul. “Wan! Dicariin kemana-mana, taunya ada disini… lagi ngapain sih?” kata Haerul menghampiri Ridwan yang sedang melamun. Ridwan tersadar dan menoleh kearah Haerul sambil nyengir.
                “Tumben disini, ada apa?” Haerul duduk disamping Ridwan. “Rul, tadi aku membayangkan waktu dulu kita SD, aku membayangkan ‘insiden’ itu…” kata Ridwan melanjutkan tidur-tiduran dan melipat kedua tangannya dibawah kepalanya. “Insiden? Insiden apa? Eh! Ooo… insiden itu, ya? Hahaha” kata Haerul. Angin berhembus lembut, membelai pipi-pipi kecil itu. Bau rerumputan disore hari membuat ingin mengingat kenangan indah itu. Haerul berbaring disebelah Ridwan sambil melipat kedua tangannya dibawah kepalanya. “Kalau diingat-ingat, hari itu seperti hari ini…” Ridwan menghirup udara yang bercampur dengan bau rerumputan itu. Angin sepoi-sepoi membelai wajah-wajah itu, seakan mereka sedang tidur dalam pangkuan alam.
                Kejadian itu terjadi ketika mereka kelas empat SD. Saat-saat Ridwan dan Haerul mulai bersahabat. Ridwan adalah murid yang biasa dan polos. “Sana! Kamu bukan bagian dari kami!” kata Doni mengusirnya. Doni adalah murid yang terkenal di SDnya itu. “Memangnya kenapa kalau aku bergabung disini?” Tanya Ridwan polos. “Kamu kan gak pinter! Disini, kan perkumpulan orang-orang pinter dan eksis, sementara kamu apa, sih?” kata Aldi salah satu temannya Doni. “Pergi sana! Kamu gak boleh masuk sini!” usir Rival. Ridwan merasa sangat sedih, dia pergi meninggalkan perkumpulan itu.
                Hal yang membuat Ridwan sangat sedih adalah disekolah itu sangatlah mengutamakan perbedaan, antara yang pintar dan eksis dengan orang yang biasa saja. Saat itu Ridwan dinilai oleh teman-temannya sebagai anak yang biasa saja. Dia dipisahkan oleh teman-temannya, dia tak boleh berteman dengan anak yang pintar dan eksis dia hanya boleh berteman hanya dengan yang biasa saja. Tapi dia merasa tak cocok berteman dengan anak yang biasa saja karena dinilai tidak punya kreatifitas dan menurut para guru dan teman-temanya mereka adalah anak yang bandel dan tidak mau diatur, oleh karena itu dia memisahkan diri dari kelompok anak biasa saja.
                Pada suatu hari, Rival sangat gelisah karena pensil yang dia sangat sanyangi hilang dikelas. Saat itu hanya ada Ridwan yang sedang menulis dengan pensil yang kelihatan mirip dengan punya Rival. Rival menghampiri Ridwan dan memukulkan tangannya kemeja, hal itu membuat Ridwan kaget. “Siniin pensil aku!” kata Rival dengan lantangnya. “Apa? Ini punyaku…” kata Ridwan sembari menyembunyikan pensilnya. “Mana liat!” Rival berusaha merebut pensil Ridwan. Tiba-tiba datang Aldi dan Doni, Rival berhasil merebut pensilnya. “Apaan sih, Val?” kata Doni dan Aldi. “Liat si Ridwan nyuri pensilku!” “Itu pensilku!” bantah Ridwan. “Coba liat nih! Pensilku udah kuberi tanda merah di ujungnya!” kata Rival mencoba membuktikan. “Gimana, sih? Kenapa sih kamu suka nyuri barang orang lain?” “Nggak… itu pensilku!” mata Ridwan berkaca-kaca, dia mencoba menahan tangis. Tiba-tiba dari luar segerombolan orang malah menyoraki Ridwan dan mendukung Rival. Ridwan tak bisa lagi menahan air matanya.
                Dia hanya tertunduk, air matanya menetes bagi hujan kecil. “Aku tak boleh melapor ke guru” pikir Ridwan sambil terus menahan tangisnya. Baginya, melapor ke guru hanyalah perbuatan yang bodoh dan tak menghasilkan. Karena pernah sekali dia melaporkan hal yang serupa pada guru tapi guru hanya menanggapi sebagai hal biasa. Guru hanya menyuruh mereka bermaafan dan berjanji takkan mengulangi, tapi itu sama seperti biasa. Oleh karena itu dia memilih untuk menyimpannya sendiri.
                Esok harinya, “Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru, pindahan dan Jogja. Silakan perkenalkan dirimu pada teman-teman.” Kata bu guru. “Halo, namaku Haerul, senang berkenalan dengan kalian…” “Senang berkenalan denganmu juga…” jawab semua murid. “Nah… kamu boleh duduk disebelah Ridwan disebelah sana” Haerul berjalan menuju bangku Ridwan dan duduk disebelahnya. “Namaku Haerul” kata Haerul sambil mengulurkan tangannya, Ridwan membalasnya dengan senyum masam “Aku Ridwan” mereka berjabat tangan.
                Bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas. Haerul berjalan kepintu keluar sambil membawa kotak bekalnya, dia menoleh kearah Ridwan yang masih duduk dibangkunya, sendirian… sambil meminum air minum yang dia bawa dari rumah. Haerul menghampiri Ridwan, “Eeehh… kok gak keluar kayak teman-teman yang lain?” Tanya Haerul. Ridwan menggeleng lalu merogoh sakunya dan yang dia menemukan sekeping uang lima ratus rupiah lalu menghela napas panjang. Haerul masih disitu memperhatikannya, terdengar bunyi perut Ridwan yang keroncongan, Ridwan segera memegangi perutnya. “Kamu laper? Ini… ambillah, gak apa-apa kok…” Haerul memberikan roti bekalnya. Ridwan menggeleng, “Eehhh… gak apa-apa kok… aku masih kenyang kok” Haerul masih menawarkan bekalnya. Ridwan menatap kearah Haerul yang tersenyum, “Ayo ambil aja… gak apa-apa kok…” Ridwan mulai memberanikan diri mengambil roti tersebut.
                “Kita bagi dua aja, ya?” kata Ridwan, Haerul mengangguk, Ridwan membelah roti itu menjadi dua bagian. Ridwan memakannya dengan lugu, Haerul tersenyum. “Kenapa sih kamu kok menyendiri terus? Gak main sama yang lain?” Tanya Haerul, dia ragu untuk menjawabnya, Haerul masih menunggunya. Ridwan akhirnya mau menjawab, dia menceritakan alasannya, Haerul begitu terkejut. “Meskipun gitu… aku mau, kok jadi sahabatmu. Kalau suasana kelas ini menurutmu bukan suasana kelasmu, janganlah menunggu kelas ini untuk merubah sikapnya padamu. Tapi ubahlah sikapmu pada kelas ini, sehingga kamu bisa diakui dikelas ini.” kata Haerul sambil nyengir. Ridwan sangat senang sekali, karena baru kali ini mendapatkan teman yang sangat mengerti dirinya. Ridwan menangis karena senang, “Eeehhh… jangan nangis dong! Laki-laki kok nangis?” kata Haerul, “Ma… maaf aku nangis karena senang…” jawab Ridwan sembari nyengir dan menahan tangis. Mereka tertawa lebar, seakan hari baru untuk Ridwan telah dating.
                Esok harinya, Ridwan mencoba mempraktekan ‘tips’ dari Haerul. Ridwan menjadi aktif dikelasnya, bertanya, menjawab pertanyaan, dan sering memberikan lelucon yang menggelikan. Lambat laun, suasana kelas mulai berubah seratus delapan puluh derajat, lambat laun banyak teman-teman yang mendekati Ridwan, dia tidak merasakan lagi yang namanya ‘perbedaan kubu’ antara yang eksis dan biasa saja. Semua kecuali Aldi, Rival, dan Doni. “Cih! Si Ridwan ternyata sekarang sudah mencari sensasi, teman kita sekarang sudah mulai berkurang, kita harus bikin perhitungan.” Kata Rival, “Aku setuju, kita lakukan pulang sekolah nanti, gimana?” kata Aldi. “Setuju” jawab Doni.
                Bel pulang berbunyi, semua murid berhamburan menuju rumah masing-masing, Haerul masih menunggu Ridwan yang sedang membereskan buku-bukunya. “Pulang duluan ya Wan, Rul…” kata teman-teman yang lain. Ridwan membalasnya dengan senyum. “Yo Wan, kita pulang” ajak Haerul yang sudah menunggu di pintu keluar. “Ayo” Ridwan menggendong tasnya yang berat itu, “Bawa apaan sih kok berat gitu?” “Buku” “Perasaan hari ini bukunya ringan-ringan, deh” kata Haerul. “Buku pelajaran sama buku komik hehe…” jawab Ridwan sambil nyengir. Haerul bingung, “Aku punya komik Rajawali Man edisi terbaru, loh… mau pinjem?” “Heh? Boleh juga tuh… pinjem dong” mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
                Di gerbang sekolah mereka dicegat oleh Aldi, Rival, dan Doni. “Mau kemana kalian?” kata Rival dengan lagak sok jago. “Ada apa kalian ini?” Tanya Ridwan. “Alaaahh… jangan sok jago kamu! Kita mau bikin perhitungan sama kamu!” kata Doni. “Kami gak punya urusan dengan kecoak sok jago kayak kalian ini, makanya minggir.” Kata Haerul yang sudah kesal. “Berani sekali kamu!” Aldi menendang perut Haerul dengan lututnya, Haerul merasakan sakit yang sangat sehingga dia mau muntah. Aldi dan Rival menangkap Haerul dan menjaganya supaya tidak kabur. Doni menarik kerah Ridwan dengan keras, “Awas kamu! Jangan coba-coba cari sensasi di kelas, ya! Kalo sekali lagi gitu…” Doni mengepalkan tangannya ke wajah Ridwan seolah mengancam, Doni dan kawan-kawannya pergi meninggalkan mereka, Ridwan sangat ketakutan, dadanya berdebar cepat. “Kamu gak apa-apa?” Ridwan membantu Haerul yang kesakitan. “Gak apa-apa kok… jangan kuatir” kata Haerul tersenyum menahan sakit.
                Mereka pulang bersama-sama. Dijalan, mereka melihat Doni dan kawan-kawannya sedang dicegat oleh seorang preman. “Eh? Itu kan Doni dan kawan-kawan… kita tolong yuk!” ajak Ridwan pada Haerul. “Ah… ngapain juga nolong mereka? Gak ada untungnya juga.” Ridwan tak menghiraukan perkataan Haerul dia berlari menuju mereka. “Bocah tengik! Cepet kasih gua lima rebu! Gimana sih gitu aja gak punya! Cepet!” kata preman itu. “Gak ada bang, kita gak punya duit segitu.” Kata Doni dan kawan-kawan. “Eh sialan nih bocah! Berani nolak lu! Punya nyali gede lu, bocah!” Ridwan menghampiri mereka. Doni dan kawan-kawan menoleh kearahnya. “Ni apaan bocah satu? Ngapain lu kemari? Cari masalah sama gua lo?” kata preman itu marah. “Oom kok malakin anak SD? Gak baik tuh…” kata Ridwan yang masih ketakutan, “Emang kenapa? Suka-suka gua dong…” jawab preman itu. “Malak orang kan gak baik… di Al-Qur’an juga udah dikatakan kalo mencuri perbuatan dosa, bisa masuk neraka.” Preman itu terkejut, dia panik. Hal itu membuat Ridwan menjadi lebih memberanikan diri, dia melangkah maju.
                “Terus orang yang suka mencuri itu, waktu dia didalam kuburnya bakal susah untuk ngejawab pertanyaan dari malaikat, ‘Siapa tuhanmu?’ terus orang yang suka mencuri itu menjawab, ‘Aku gak tau’…” Preman itu mundur sambil menutupi telinganya, “Berhenti cerita bocah!” Preman itu ketakutan bukan main. “Di dalam dalem kuburnya sendirian, gelap, gak ada yang menemani, tiba-tiba dateng seseorang yang bertampang buruk dan busuk menghampirinya. Orang suka mencuri itu bertanya, ‘Siapa kamu?’ orang buruk itu menjawab, ‘Akulah wujud dari perbuatanmu didunia.” Ridwan terus melanjutkan ceritanya sambil terus melangkah kedepan. Preman itu menangis dan berlutut didepan Ridwan, “Maafin gua, gua gak mau hal itu terjadi ke gua.” “Makanya setelah ini oom berhenti jadi preman terus ganti ke pekerjaan yang lebih baik lagi, ya!” kata Ridwan. Akhirnya preman itu lari terbirit-birit.
                “Mulai saat itu kehidupanku berubah, mereka meminta maaf dan tak ada lagi yang namanya kubu eksis dan biasa saja.” Ridwan menghela nafas lalu tersenyum lebar. “Bukannya kamu bilang ingin melupakan kenangan itu, Wan?” kata Haerul. “Memang, sih… tapi kan kenangan juga perlu dikenang, kenangan baik untuk motivasi kita dan juga bisa diceritakan pada orang banyak. Kenangan buruk juga gak selamanya buruk, mungkin saat itu memang terasa buruk, tapi beberapa tahun kemudian hal itu terasa lucu, kita bisa mengubah hidup kita kedepan dengan pengalaman buruk itu, teman…” jawab Ridwan. “Haaahhh… dasar Ridwan, kamu memang orang yang penuh dengan rahasia yang sulit dibaca orang, ya?!” kata Haerul sambil menggelengkan kepala. “Eh, ini kan udah magrib! Ayo kita pulang! Gawat nih… sampe rumah pasti dimarahin, nih…” “Kamu, sih… ayo pulang!” Mereka berlari menuju rumah mereka masing-masing
TAMAT

Jumat, 04 Februari 2011

Melupakan... bukan berarti membenci, kan?

Sebelumnya :
("Ternyata begitu, ya? Lebih baik menjadi sahabat saja, satu hal yang aku pelajari, terlalu berharap akan menimbulkan stress." Haerul mendekatinya, "Gimana berhasil gak?" Ridwan menjawab, "Gak" "Hah... kenapa?" tanya Haerul, Ridwan menjawab, "Karena... itulah alasanku memilih sendirian..." Ridwan melanjutkan langkahnya lagi. Haerul bingung, dan segera mengejar Ridwan.)

 "Wan! Kenapa sih kok kamu gitu? Ada masalah lagi? Si Linda gak nerima kamu, ya?" kata Haerul sangat penasaran. "Gak, kok... aku gak menyatakan cinta ke dia..." ujar Ridwan tenang sambil terus berjalan. "Kok gitu sih? Bukannya kamu suka ke dia, kan?" Haerul masih sangat menunggu jawaban yang sesungguhnya dari mulut Ridwan. "Haha... itu...aku baru sadar, teman... kalau seandainya aku kemaren nembak dia, mungkin aku akan menghancurkan hidupnya... Sudah, ya... bosen ngobrolin itu mulu, kita ke kantin, yuk!" kata Ridwan dengan santainya. "Enggak ah... aku masih kenyang, kamu aja deh..." kata Haerul bingung mendengar perkataan temannya itu, Ridwan meninggalkannya.

Di kelas, saat pelajaran Fisika. "Hehehe... dia memperhatikanku..." kata seorang murid bernama Nita yang wajahnya 'unik'. "Kenapa dengan anak itu, ya? Aku jadi kasihan melihatnya murung terus..." mata Haerul terus tertuju pada Ridwan dengan pikiran-pikirannya itu. "Apakah dia depresi berat, ya? Karena gak diterima si Linda?" gumam Haerul. Tiba-tiba... "Haerul!!!" Haerul terkaget karena bu guru menegurnya... "Coba jawab pertanyaan ini" kata Bu guru. "Eh... euh... itu..." "Makanya perhatiin! Liat apa sih kamu? Kan kasihan si Nita di liatin terus, kalau suka ngomong aja langsung..." kata bu guru, wajah Nita memerah... "APAAN??!!! ENGGAK KOK!!!!" Haerul sangat malu karena teman-teman sekelas menertawainya. "Ah... ibu... aku kan jadi malu..." kata Nita yang sudah GR, "NO!!!!" protes Haerul.

Pulang sekolah, Haerul menyusul Ridwan yang sedang berjalan menuju pintu gerbang sekolah. "Wan, Wan... aku pengen ngobrol sama kamu nih..." kata Haerul dengan terengah-engah. "Apaan? Lo pengen nembak si Nita, ya?" kata Ridwan sembari cekikikan. "Sekali lagi lo ngomong gitu, ni sepatu udah siap melayang dimuka lo!" kata Haerul sedikit sebal. Mereka berjalan ke gerbang sekolah bersama, "Kenapa? Tadi kamu pengen ngobrol apa?" tanya Ridwan. "Sebenernya ada apa sih hari ini kamu?" tanya Haerul, "Enggak tuh... gak ada apa-apa..." balas Ridwan. "Sebenernya kamu diterima gak sih sama si Linda?" tanya Haerul. "Kan sudah kubilang, aku gak nembak dia... kalo aku nembak dia mungkin aku akan merusak kehidupannya, aku hanya gak mau merusak kehidupannya..." jawab Ridwan tenang. "Merusak? Apa maksudnya?" gumam Haerul.

Mereka berdua pergi ke sebuah Warteg dan memesan makanan, "Kan disini enak... kita ngobrolnya..." kata Ridwan dengan nasi di mulutnya. Haerul tersenyum, "Hei... aku masih gak ngerti maksudmu apa? Merusak kehidupannya? Apa maksudmu?" tanya Haerul. Ridwan meneguk air yang sudah disediakan, "Itu... kamu gak tau, ya? Kalau si Linda menyukai seseorang?" Haerul menggeleng. "Itulah... dia menyukai kak Amran... coba pikirkan, kalau aku kemarin nembak dia... pasti ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin aku tidak diterima dan yang kedua aku diterima tapi pastinya dia masih mengharapkan kak Amran... dan dari kemungkinan kedua itu pasti menghasilkan satu hal, yaitu... mungkin aku dan dia tak akan lama." jelas Ridwan sambil menyuap nasi kemulutnya.

Haerul mendengarkannya dengan seksama lalu menelan makanannya secara pelan-pelan. "Terus kamu gimana?" "Gimana apanya?" jawab Ridwan. "Ya... perasaanmu terhadapnya?" "Ooohhh itu.... aku cuma punya satu jawaban... aku ingin melupakannya..." jawab Ridwan sambil tersenyum, perasaan Haerul menjadi semakin kacau. "Huah... kenyang... berapa bu?" kata Ridwan sambil membuka dompetnya. "Tujuh ribu..." Ridwan memberikan uangnya, "Rul, mau pulang bareng?" ajak Ridwan. "Enggak ah... kamu duluan aja, aku masih mau disini..." "Yaudah... duluan, ya!" Ridwan meninggalkan Warteg tersebut. Haerul terus memikirkan kata-kata Ridwan dengan serius, makanannya belum sempat dihabiskannya. Tiba-tiba... "Sep, sampai mau kapan disini? Udah malem nih..." kata pemilik Warteg. "Udah malem? Bukannya masih siang?" jawab Haerul bingung. Betapa terkejutnya ketika ia melihat keluar, "SUDAH MALAM????" Haerul buru-buru menghabiskan makanannya, segera membayar, dan berlari menuju rumah.

Esok harinya, "Ternyata si Ridwan kayaknya udah sebel sama si Linda deh, kasihan banget dia... gak diterima langsung ingin melupakannya.." pikir Haerul dalam hati selalu. Dalam pikiran Haerul, Ridwan amat membenci Linda karena gak diterima cintanya. Beberapa minggu kemudian, diselenggarakan pertandingan kesenian dari sebuah Universitas terkenal di Bandung, Haerul selalu memperhatikan Ridwan. Dalam pertandingan itu, Ridwan dan Linda berada dalam satu regu mereka saling menyemangati satu sama lain dan mereka sangat kompak. Haerul merasa aneh, "Bukannya si Ridwan benci sama si Linda? Tapi kok...?" pikirannya terus mengganggunya.

Ridwan dan Linda masuk sepuluh besar, tapi tidak mendapatkan juara, meskipun begitu... mereka saling menyemangati satu sama lain. Pada suatu hari, Haerul bertanya pada Ridwan. "Wan, katanya dulu kamu membenci si Linda? Tapi kok..." "Benci? Kata siapa?" jawab Ridwan. "Itu, loh... waktu obrolan kita di Warteg dulu, kamu inget gak?" kata Haerul mencoba mengingatkan, "Enggak deh... aku gak ngomong benci, kok... aku kan bilang aku mau melupakannya..." "Bukannya itu sama saja dengan membenci?" tanya Haerul. "Hehe... Mindsetmu harus dirubah tuh... kan aku bilang melupakan bukan membenci, melupakan bukan berarti membenci kan?" jelas Ridwan.

Haerul masih mencerna apa yang dikatakan Ridwan, "Gini deh... sebenernya yang aku mau lupakan bukan sosoknya, tapi perasaanku terhadapnya... menjadi sahabat tidak buruk kan?" jelas Ridwan sambil nyengir. Kini Haerul baru mengerti maksud Ridwan selama ini, tiba-tiba Linda datang menghampiri mereka, "Eh ada Haerul... ayo kita pulang, sampai kapan kita mau disekolah terus?" ajak Linda. "Hahaha... benar ayo kita pulang!" balas Ridwan. Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi mereka, "Hehehe... sebenernya aku masih menyukai Linda sih... aku juga masih mengharapkan perasaan Linda padaku, sih... akan kubuktikan padanya kalau aku pantas..." gumam Ridwan dalam hati sambil senyum-senyum.

TAMAT

Rabu, 02 Februari 2011

Itulah alasanku memilih sendirian

Di suatu SMA di Bandung...'KRIIIINGGGG!!!!' bel istirahat sudah berbunyi, murid-murid berhamburan keluar kelas. "Wan, kenapa sih kamu murung melulu hari ini?" tanya Haerul pada Ridwan yang sedang duduk di bangkunya di pojok kelas. "Eh? Apa? Gak apa-apa kok..." jawab Ridwan kaget karena Haerul menepuk pundaknya. "Hayooo... mikirin apa kamu? Mikirin yang aneh ya...?" kata Haerul menggoda, "Ih... apaan sih? Ayo ah... kita ke kantin, laper nih..." kata Ridwan yang lalu berdiri dari bangkunya, dan berjalan menuju pintu keluar. "Ayooo... mikirin apa sih...????" "Berisik lo!!!" Haerul terus menggoda dan Ridwan sedikit kesal.

Di kantin, "Bu, sotonya dua, ya?" Ridwan memesan soto lalu duduk di bangku yang sudah disediakan di kantin tersebut. Beberapa menit kemudian, soto yang dipesan datang juga, "Bu, kok sotonya gak dikasih sambel?" kata Haerul, "Ini... ibu lupa..." penjual soto itu memberikan satu sendok sambel di mangkok Haerul. "Bu... ini mah terlalu sedikit. Sambelnya kayak biasa dong" kata Haerul yang masih belum puas dengan sambel yang diberikan. "Memang biasanya berapa sendok?" "Delapan dong... masa ibu gak tau?" kata Haerul. "Banyak-banyak amat! Nih... dua sendok aja cukup! Harga cabe mahal tau!" "Yah ibu..." akhirnya penjual soto itu hanya memberikan dua sendok cabe lagi. Haerul makan sambil 'ngedumel' "Huh... makan sambelnya dikit, kan gak enak!" "Dasar anak ini..." kata Ridwan yang menyaksikan kelakuan aneh temannya itu.

Beberapa saat kemudian, Haerul sudah selesai makan, tapi dia aneh melihat Ridwan yang tidak memakan makanannya. "Kenapa kamu? Gak dimakan, tuh?" Ridwan terbangun dari hayalannya, "Eh... iya, aku lupa..." Ridwan segera memakan sotonya dengan terburu-buru. "Kenapa sih? Kok kayaknya aneh banget hari ini? Ada apa sih?" kata Haerul aneh. "Aneh? Gak tuh... gak apa-apa" Ridwan meneruskan makan dengan terburu-buru. Tiba-tiba Linda datang kearah mereka. Ridwan terus memperhatikan dia sembari tidak melanjutkan makannya, Haerul aneh melihat kelakuan temannya itu. Linda membeli makanan kecil dan segera keluar dari kantin. Mata Ridwan seakan terus memperhatikan gerakannya bahkan hingga ia keluar kantin.

"Ooo... aku tahu sekarang..." "Eh? Tau apa?" Ridwan kaget. "Kamu suka si Linda, ya?" Haerul cekikikan. Ridwan terlihat panik dan kaget, "Apaan? Enggak kok..." kata Ridwan membela diri. "Alaaahh... Jujur aja deehh..." kata Haerul menggoda, "Enggak kok... aku nggak gitu...". Tiba-tiba bel masuk berbunyi, "Ayolah sekarang kita masuk kelas! Udah bel nih..." ajak Ridwan. "Ayo kita cepet-cepet! Pak guru pelajaran Kimia galak nih..." mereka berdua berlari, tiba-tiba... "Woi!! Bayar dulu sotonya!!!" kata penjual soto sambil mencegat mereka. "Oh iya... ini bu..." mereka membayar soto itu langsung segera berlari menuju kelas.

Pulang sekolah... "Duh! Panas nih... kita beli es kelapa muda yuk!" ajak Haerul. "Ayo! kayaknya enak tuh... di siang bolong begini..." Ridwan setuju. Di warung es kelapa, "Enak banget, ya es kelapanya!" seru Haerul, tapi Ridwan diam saja. "Wan, wan, WAN!!!!" Haerul berteriak dan Ridwan baru sadar lalu segera meminum es kelapanya dengan terburu-buru. "Kenapa sih kamu dari tadi rasanya aneh terus? Ada masalah, ya?" Haerul penasaran, "Eh... enggak kok... gak ada apa-apa" kata Ridwan langsung meminum es kelapanya lagi. "Gimana sih... kan kita teman... kasih tau aja masalah kamu ke saya, janji kok gak akan dikasih tau ke temn-temen lain..." bujuk Haerul. "Beneran kok gak ada apa-apa..." Ridwan masih menyembunyikan rahasianya. "Ayolah, wan... aku kasihan melihatmu murung terus hari ini..." Ridwan terdiam lalu menarik nafas dalam-dalam. "Hah... beneran, ya lo gak akan ngasih tau hal ini ke orang lain?" Ridwan mulai memberanikan diri.

"Gini, rul... sebenernya aku ini..." Ridwan mengecilkan suaranya, Haerul menjadi tegang. "... aku sebenarnya..." Haerul mulai tak sabar mendengarkannya. "...sebenernya aku gak suka kalo tukang es kelapa ikut nguping pembicaraan kita!" kata Ridwan yang menyindir tukang es kelapa yang sedang menguping disebelahnya, "Maaf den... hehehe... penasaran sih..." tukang es kelapa itu segera mencuci gelas yang kotor. "Tolooong... banget, jangan kasih tau ke orang lain. Ini cuma urusan kita aja!" "Iyaaa... janji deh..." "Aku ini... sebenernya menyukai Linda..." kata Ridwan dengan malu. "Ooohhh.... gitu toh!!!" "Ssstttt!!!! Jangan berisik lo! Ntar kedengeran orang lain bisa berabe!!" kata Ridwan.

"Kirain apa? Dari tadi kek, ngomong gitu... kan aku gak cemas." kata Haerul. "Iya, kamu punya saran gak? Aku sebenernya suka sama dia, tapi aku malu ngomong ke dianya..." kata Ridwan. "Gitu mah gampang dong! Kamu cuma perlu care ke dia... kalo kamu udah care... sering-sering motivasi dia, setelah kamu merasa udah ada kecocokkan, tembak deehh.... gampang kan?" kata Haerul. "Ngomong sih gampang..." kata Ridwan dengan sedikit merendah. "Udah deh... pokoknya lakuin aja gitu selama minimal tiga bulan, ntar liat deh perubahannya!" kata Haerul sambil cekikikan. "Udah ya! Pulang duluan... Pak yang bayarin dia" kata Haerul ke tukang es kelapa. "WHATS?!"

Keesokkan harinya, Ridwan pergi kesekolah dengan semangat dan ingin mempraktekan 'tips' dari Haerul. Memang dia dan Linda berada dalam satu klub kesenian disekolahnya, Ridwan selalu mensupport dan menghibur dia dalam keadaan apapun, dua bulan kemudian Ridwan merasakan suatu keakraban diantara mereka. Ada perasaan dalam hati Ridwan yang ingin menembak Linda, " Apakah ini pertanda? Apa lebih baik aku tembak dia atau enggak ya?" pikir Ridwan dalam hati selalu. Tetapi rasa berbunga-bunga itu hancur seketika, Linda menceritakan di depannya terus terang kalau dia menyukai seseorang, Ridwan hanya tersenyum saja mendengar itu, seakan tak ada sesuatu yang terjadi dalam hatinya.

Keesokkan harinya, Haerul mendekati Ridwan yang sedang diam di bangkunya di pojokkan kelas. "Gimana, berhasil gak?" tanya Haerul. Ridwan bangun dari bangkunya dan menuju kearah pintu keluar. "Ternyata begitu, ya? Lebih baik menjadi sahabat saja, satu hal yang aku pelajari, terlalu berharap akan menimbulkan stress." Haerul mendekatinya, "Gimana berhasil gak?" Ridwan menjawab, "Gak" "Hah... kenapa?" tanya Haerul, Ridwan menjawab, "Karena... itulah alasanku memilih sendirian..." Ridwan melanjutkan langkahnya lagi. Haerul bingung, dan segera mengejar Ridwan.
TAMAT