Hari itu hari sabtu, aku datang kesekolah hanya untuk mendownload antivirus (gak bener banget) dan menyerahkan gambar pada temanku yang kebetulan dia ikut lomba TIK, aku menyerahkan gambar itu sudah beruba JPG. Begitu aku sampai disekolah tiba-tiba temanku, Benazir. Dia juga adalah KM kelas XA, yaitu KM kelasku. Dia datang menghampiriku, "Wildan, tolong kasih tau yang lain, ya besok kita bakal latihan untuk nasyid." Aku mengiyakan, dia berterima kasih dan segera pergi, mungkin dia sedang ada urusan yang lain.
Aku masuk kedalam sekolah dan mencari teman-teman yang harus kukabarkan. Kukabarkan mereka yang belum tahu, mereka menyambutnya dengan keluhan, "Haaahhh... kenapa sih harus besok? Padahal hari itu aku pengennya libur!" "Kenapa sih harus mendadak?" kata mereka. Aku tidak mempedulikan keluhan mereka dan segera membuka laptop, dan segera mendownload antivirus yang aku inginkan. Tapi hasilnya belum terdownload, karena waktu yang cuma sebentar dan aku harus pulang.
Esok harinya aku mengabarkan pada temanku Albian, aku tidak bisa datang karena harus memebeli kacamata yang baru. Aku tak tahu apa yang terjadi hari itu disekolah.
Hari Seninnya aku datang kesekolah dan segera menemui teman sekelasku Hanif. Aku bertanya padanya, "Nip, hari ini kita mau bawain lagu apa?" dia menjawab, "Pastinya lagu pertama Alfa Salam. Tapi lagu kedua aku gak tau apa?". Saat itu aku melihat kelas lain yang latihan bersama-sama dengan anggota kelas lainnya, mereka begitu kompak. Andai kelasku seperti itu... khayalku.
Beberapa puluh menit kemudian teman-teman XA datang, "Ayo kita latihan yuk" ajak Benazir. Kami mencari kelas yang kosong, betapa terkejutnya aku ketika mendengar obrolan mereka, "Jadi lagu keduanya mau apa?" itulah yang sangat bingung. "Berarti kemarin latihan atau enggak?" pikirku. Beberapa detik kemudian bel tanda masuk berbunyi, diskusi dibubarkan. Kami berkumpul di halaman sekolah untuk mengabsen, untunglah nasyid adalah perlombaan yang paling terakhir, aku sedikit lega. Aku ikut lomba adzan yang sebenarnya itu juga aku menggantikan Albian, karena dia ikut lomba fashion show yang waktunya bersamaan dengan adzan.
Lomba adzan selesai, untungnya aku masih sempat melihat lomba fashion show itu. Aku bertanya lagi pada Hanif "Nip, tadi latihan gak? Udah dapet lagu keduanya?" tidak menggeleng. Hatiku menjadi sedikit kesal. Aku menemui Benazir seolah aku ingin ngambek padanya. Waktu terus bergulir, kepanikanku bertambah. Acara sudah masuk pada lomba nasyid, saat itu kami belum terpikir lagu apa. "Temen-temen yang lain kemana sih?" tanyaku pada Hanif, "Gak tau tuh..." Hanif juga sudah mulai kesal. Mereka menghilang, seolah mereka hilang tanggung jawab pada kelasnya.
Aku bertanya pada Benazir, dia menjawab mereka di rumah seorang teman kami yang rumahnya tidak jauh dari sekolah. Aku dan Benazir menyusulnya. Sesampainya di rumah teman kami itu, Benazir mengetuk pintu, pintu dibuka ternyata itu salah satu teman kami. "Ayolah, kita kesekolah sekarang! Ayo kita tampil!" bujukku, "Terus nanti kita mau ngapain di panggung? Musik gak ada, yang bisa main musik gak ada. Latihan pun kita enggak" jawabnya. Aku kesal bukan main dibuatnya, "Kok gitu sih? Kok kamu gak ada tanggung jawabnya sama sekali untuk kelas kita?" tanyaku padanya dengan nada marah tapi datar. Dia terlihat bingung, "Kamu masih anggota XA? Tapi mana tanggung jawabmu?" tambahku. Dia masih menjawab dengan jawaban yang sama. Aku kesal, "Udahlah kalian duluan aja nanti kami nyusul, kok" balasnya. Aku meninggalkan rumah itu dan segera menuju sekolah dengan perasaan kesal.
"Gimana?" tanya Albian. Aku menjawab apa adanya saja. Dia terlihat kesal juga, aura negatif membalut kami. Kata-kata kasar terlontar dari mulutku, aku terus berdoa untuk dipanggil di akhir saja. Aku mau menyusul lagi Benazir, Aku melihatnya dan kudekati dia, "Gimana, Ben?" tanyaku. "Mereka gak mau" jawab Benazir, matanya sudah berkaca-kaca. Aku kasihan melihat Albian dan Benazir, "Kita ngomong aja ke Pak Budi aja ya" ajak Hanif, Pak Budi adalah wali kelas kami yang juga juri dalam lomba nasyid itu. Semuanya terlihat stress.
Hanif mengajakku untuk mengobrol sebentar, "Terus sekarang kita gimana? Mau apa sekarang?" kata Hanif yang sudah stress. Tiba-tiba datang Benazir duduk disebelahku. "Kita ngomong aja ke Pak Budi aja, yuk!" ajak Benazir. Aku masih berfikir, tiba-tiba " Terus apa yang pengen kamu bilang ke Pak Budi? Kamu mau nyerah?" Benazir melihatku seakan itu adalah jawaban 'ya'. "Mau latihan, udah gak sempet" kata Hanif yang sudah tidak bisa berfikir lagi. "Kalian mau menyerah? Terus percuma dong... lama-lama kita disekolah cuma mau bilang nyerah. Sedari tadi kita masih seorang WINNER, karena masih mau bertahan disekolah tanpa persiapan. Terus kamu mau nyerah? Kalau gitu kita sama dengan mereka yang kabur itu, seorang LOSER yang hanya berani merencanakan tapi tidak berani melakukan." mereka mendengarkanku.
"Mungkin memang benar nanti penilaian guru-guru dan seluruh warga Muthahhari terhadap XA bakal buruk. Tapi pastinya dari buruknya itu ada mengecualian. Kelas XA memang buruk, kecuali mereka yang kemarin berani tampil." kataku, tiba-tiba "Ayo! Kita mau latihan dimana?" Benazir terlihat semangat lagi, beruntung ada 3 orang yang ikut dengan usulku. Kami latihan, tiba-tiba datang Bimo dan Nauval. Kami mengajaknya untuk latihan, tiba-tiba panggilan untuk XA terdengar. Kami keluar menuju panggung, orang-orang bingung melihat kami yang hanya ber-6. Vokal 5 orang dan musik 1 orang. Albian bersiap dengan jimbenya.
"Assalamu alaikum wr.wb" aku yang membuka. "Kami dari XA, meskipun bersedikitan, tapi pasti kita bisa, ya?" tanyaku pada teman-teman. Penonton memberikan ratusan tepuk tangan untuk kami. Aku awalnya merasa tegang, tetapi selanjutnya biasa saja. Lagu pertama selesai, lalu masuk ke lagu kedua. Kami membawakan lagu Tombo Ati-Opick. Aku membukanya dengan intronya, terlihat dan terdengar ratusan tepuk tangan tertuju pada kami. Di lagu kedua aku banyak kesalahan, tapi untunglah teman-teman menutupi kesalahanku. Dan akhirnya selesai. Semua menyoraki kami, aku duduk di kursi penonton. Aku mendapatkan sambutan positif, "Wildaaaannn... suaramu bagus sekali!" kata seorang kakak kelas dan disusul dengan yang lain. Aku bingung, 'Suaraku bagus?' pikirku. Sambutan positif tertuju pada kami. Aku merasa sangat bersyukur, aku menyalami teman-temanku yang sudah tampil bersamaku. Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku.
Segala sesuatu apabila ingin bahagia, pasti harus melaui proses yang pahit terlebih dahulu. Tapi kebanyakan orang ingin bahagia tapi dia tidak mau menjalani prosesnya, dan hasilnya ironis yang dia dapat adalah kesengsaraan. Untuk semua yang membaca artikel ini, sebuah kata-kata dariku. "Apabila kamu kamu ingin mati bahagia, lakukan proses perih. Tapi bila ingin mati sengsara, lakukan proses yang membuatmu bahagia (tidak mau mengambil resiko)
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar