Di kantin, "Bu, sotonya dua, ya?" Ridwan memesan soto lalu duduk di bangku yang sudah disediakan di kantin tersebut. Beberapa menit kemudian, soto yang dipesan datang juga, "Bu, kok sotonya gak dikasih sambel?" kata Haerul, "Ini... ibu lupa..." penjual soto itu memberikan satu sendok sambel di mangkok Haerul. "Bu... ini mah terlalu sedikit. Sambelnya kayak biasa dong" kata Haerul yang masih belum puas dengan sambel yang diberikan. "Memang biasanya berapa sendok?" "Delapan dong... masa ibu gak tau?" kata Haerul. "Banyak-banyak amat! Nih... dua sendok aja cukup! Harga cabe mahal tau!" "Yah ibu..." akhirnya penjual soto itu hanya memberikan dua sendok cabe lagi. Haerul makan sambil 'ngedumel' "Huh... makan sambelnya dikit, kan gak enak!" "Dasar anak ini..." kata Ridwan yang menyaksikan kelakuan aneh temannya itu.
Beberapa saat kemudian, Haerul sudah selesai makan, tapi dia aneh melihat Ridwan yang tidak memakan makanannya. "Kenapa kamu? Gak dimakan, tuh?" Ridwan terbangun dari hayalannya, "Eh... iya, aku lupa..." Ridwan segera memakan sotonya dengan terburu-buru. "Kenapa sih? Kok kayaknya aneh banget hari ini? Ada apa sih?" kata Haerul aneh. "Aneh? Gak tuh... gak apa-apa" Ridwan meneruskan makan dengan terburu-buru. Tiba-tiba Linda datang kearah mereka. Ridwan terus memperhatikan dia sembari tidak melanjutkan makannya, Haerul aneh melihat kelakuan temannya itu. Linda membeli makanan kecil dan segera keluar dari kantin. Mata Ridwan seakan terus memperhatikan gerakannya bahkan hingga ia keluar kantin.
"Ooo... aku tahu sekarang..." "Eh? Tau apa?" Ridwan kaget. "Kamu suka si Linda, ya?" Haerul cekikikan. Ridwan terlihat panik dan kaget, "Apaan? Enggak kok..." kata Ridwan membela diri. "Alaaahh... Jujur aja deehh..." kata Haerul menggoda, "Enggak kok... aku nggak gitu...". Tiba-tiba bel masuk berbunyi, "Ayolah sekarang kita masuk kelas! Udah bel nih..." ajak Ridwan. "Ayo kita cepet-cepet! Pak guru pelajaran Kimia galak nih..." mereka berdua berlari, tiba-tiba... "Woi!! Bayar dulu sotonya!!!" kata penjual soto sambil mencegat mereka. "Oh iya... ini bu..." mereka membayar soto itu langsung segera berlari menuju kelas.
Pulang sekolah... "Duh! Panas nih... kita beli es kelapa muda yuk!" ajak Haerul. "Ayo! kayaknya enak tuh... di siang bolong begini..." Ridwan setuju. Di warung es kelapa, "Enak banget, ya es kelapanya!" seru Haerul, tapi Ridwan diam saja. "Wan, wan, WAN!!!!" Haerul berteriak dan Ridwan baru sadar lalu segera meminum es kelapanya dengan terburu-buru. "Kenapa sih kamu dari tadi rasanya aneh terus? Ada masalah, ya?" Haerul penasaran, "Eh... enggak kok... gak ada apa-apa" kata Ridwan langsung meminum es kelapanya lagi. "Gimana sih... kan kita teman... kasih tau aja masalah kamu ke saya, janji kok gak akan dikasih tau ke temn-temen lain..." bujuk Haerul. "Beneran kok gak ada apa-apa..." Ridwan masih menyembunyikan rahasianya. "Ayolah, wan... aku kasihan melihatmu murung terus hari ini..." Ridwan terdiam lalu menarik nafas dalam-dalam. "Hah... beneran, ya lo gak akan ngasih tau hal ini ke orang lain?" Ridwan mulai memberanikan diri.
"Gini, rul... sebenernya aku ini..." Ridwan mengecilkan suaranya, Haerul menjadi tegang. "... aku sebenarnya..." Haerul mulai tak sabar mendengarkannya. "...sebenernya aku gak suka kalo tukang es kelapa ikut nguping pembicaraan kita!" kata Ridwan yang menyindir tukang es kelapa yang sedang menguping disebelahnya, "Maaf den... hehehe... penasaran sih..." tukang es kelapa itu segera mencuci gelas yang kotor. "Tolooong... banget, jangan kasih tau ke orang lain. Ini cuma urusan kita aja!" "Iyaaa... janji deh..." "Aku ini... sebenernya menyukai Linda..." kata Ridwan dengan malu. "Ooohhh.... gitu toh!!!" "Ssstttt!!!! Jangan berisik lo! Ntar kedengeran orang lain bisa berabe!!" kata Ridwan.
"Kirain apa? Dari tadi kek, ngomong gitu... kan aku gak cemas." kata Haerul. "Iya, kamu punya saran gak? Aku sebenernya suka sama dia, tapi aku malu ngomong ke dianya..." kata Ridwan. "Gitu mah gampang dong! Kamu cuma perlu care ke dia... kalo kamu udah care... sering-sering motivasi dia, setelah kamu merasa udah ada kecocokkan, tembak deehh.... gampang kan?" kata Haerul. "Ngomong sih gampang..." kata Ridwan dengan sedikit merendah. "Udah deh... pokoknya lakuin aja gitu selama minimal tiga bulan, ntar liat deh perubahannya!" kata Haerul sambil cekikikan. "Udah ya! Pulang duluan... Pak yang bayarin dia" kata Haerul ke tukang es kelapa. "WHATS?!"
Keesokkan harinya, Ridwan pergi kesekolah dengan semangat dan ingin mempraktekan 'tips' dari Haerul. Memang dia dan Linda berada dalam satu klub kesenian disekolahnya, Ridwan selalu mensupport dan menghibur dia dalam keadaan apapun, dua bulan kemudian Ridwan merasakan suatu keakraban diantara mereka. Ada perasaan dalam hati Ridwan yang ingin menembak Linda, " Apakah ini pertanda? Apa lebih baik aku tembak dia atau enggak ya?" pikir Ridwan dalam hati selalu. Tetapi rasa berbunga-bunga itu hancur seketika, Linda menceritakan di depannya terus terang kalau dia menyukai seseorang, Ridwan hanya tersenyum saja mendengar itu, seakan tak ada sesuatu yang terjadi dalam hatinya.
Keesokkan harinya, Haerul mendekati Ridwan yang sedang diam di bangkunya di pojokkan kelas. "Gimana, berhasil gak?" tanya Haerul. Ridwan bangun dari bangkunya dan menuju kearah pintu keluar. "Ternyata begitu, ya? Lebih baik menjadi sahabat saja, satu hal yang aku pelajari, terlalu berharap akan menimbulkan stress." Haerul mendekatinya, "Gimana berhasil gak?" Ridwan menjawab, "Gak" "Hah... kenapa?" tanya Haerul, Ridwan menjawab, "Karena... itulah alasanku memilih sendirian..." Ridwan melanjutkan langkahnya lagi. Haerul bingung, dan segera mengejar Ridwan.
TAMAT
hooo rame banget...
BalasHapusmeski terlalu panjang
keren.....^_^