Minggu, 30 Desember 2012

Senja Baru




Ini untuk pertama kalinya aku menulis sebuah buah pena yang berkaitan dengan ulang tahun seseorang (pernah sih... itu juga hanya untuk ibuku). Yah... mungkin ini tidak seberapa dengan mewahnya Hotel Aston Martin, atau berkilauannya batu Ruby dan Sapphire, atau cantiknya langit lembayung senja, atau indahnya senandung dari para pujangga. Ini hanyalah secercah tulisan. Tulisan dari seorang yang senang menulis, bukan siapapun. Tulisan dari seorang yang ingin memberikan hadiah tapi tak dapat tercapai. Oleh karena itu, baca karangan ini sampai habis ya :)

Desiran angin membawa namamu
Lembaran baru pun terbuka
Siap goreskan sebuah sejarah
Di langkahmu yang baru,
Di senyumanmu yang baru,
Di jentikan setiap jemarimu,
Hari baru telah menyapamu.

Sangatlah menyenangkan saat orang-orang rumah, terdekat, dan teman-teman meneriakkan ‘selamat ulang tahun!’ tawa dan senda gurau terbersit di wajah kita. Oleh karena itu, bersyukurlah  kau bisa bertemu hari ini. Bersyukurlah kau masih bersama orang-orang yang kau sayangi dan menyayangimu (keluarga). Bersyukurlah. Mungkin belum lama aku mengenalmu, tapi karena kita satu sekolah, alangkah baiknya kita saling mengenal satu sama lain, kan? Meski begitu, aku percaya pastinya kau orang baik, mau berusaha, dan belajar. Karena itulah, aku percaya. Semoga di hari ulang tahunmu ini banyak hal yang berkesan di hatimu, semoga di ulang tahunmu ini hal-hal yang baik selalu menyertaimu, semoga di ulang tahunmu ini semua yang kau cita-citakan dan mimpikan dapat tercapai, semoga di ulang tahunmu ini dirimu menjadi dirimu yang baru, dirimu yang lebih baik dari hari kemarin. Lupakan semua sesalmu. Lupakan semua lukamu. Karena ini hari ulang tahunmu. Buatlah dirimu seindah namamu. Tersenyumlah. Karena senyum adalah salah satu hal yang paling menarik dari setiap orang.

Selamat Ulang tahun, Jasmine 
I wish you all the best :)

Jika hari ini hari terakhirku melihatmu, aku sangat bersyukur bisa mengenalmu.
-Bocah kacamata-

Selasa, 22 Maret 2011

DIA 'MENDERITA', SAMA SEPERTIKU

Seorang kawan, memiliki kisah yang serupa denganku. Dan bisa kubilang dia sama sepertiku, 'kehidupanku baru saja dimulai disini'.

Ketika mencoba mengingat kenangan masa-masa SD dan SMP, sama sekali takada yang kuingat. 'Mungkinkah aku tidak menikmati masa-masa itu?' 'Mungkin saja benar...' Selama masuk hingga kelulusan, tidak semuanya yang kukenal, mungkin hanya beberapa orang. Selalu dipandang "bodoh". Padahal apa, sih definisi "bodoh" itu? Merasa sendiri, tetapi sebenarnya orang-orang sedang mengitariku, duduk di pojok kelas sepi. Tapi semua itu salahku, melepaskan ikatan itu darinya.

Haaahhhh.... dia 'menderita', dan dia sama sepertiku... tapi, sesuatu yang membuatku kagum padanya. Dialah teman pertama yang menginspirasiku, dia orang yang bisa bangkit dari sorrow yang dia alami selama ini. Dia yang mengajakku keluar dari 'labirin kebingunganku' dan ' labirin kebiasaanku' dengan cara yang tidak langsung dan unik. Melakukan hal 'gila' yang orang-orang 'waras' tidak mau melakukannya. Berimajinasi setinggi-tingginya tanpa seorang pun yang bisa memikirkan apa yang dia pikirkan. Thanks to inspired me... senpai...

"Orang tersukses bukan dinilai dari sebanyak apa dia tidak pernah jatuh, tapi sebanyak apa dia bisa bangkit dari keterpurukan".

Salam-Salam ya Teman

Teman...
Seseorang yang rela berbagi
dikala senang dan sedih...

Teman...
Seseorang yang rela menampung semua...
Suka dan duka


Teman...
Seseorang yang ada disamping kita
Untuk tertawa, berkreasi, dan menanggung beban bersama.


Tapi, rasanya sudah lama aku tak melihat mereka


Salam-salam ya teman...
Apa kabar kalian hari ini?
Meskipun tidak nampak disini, tapi kalian nampak di ujung pulau itu
Tak akan berlari sendiri menghadang angin, dibawah langit lembayung
Bagai sayap bangau yang patah
Kalian tahu kenapa?
Karena takkan terucap kata selamat tinggal untuk seorang teman, bukan?

Rabu, 09 Maret 2011

DI SMA MUTHAHHARI....

Masa SMA adalah masa yang menyenangkan. Itulah mungkin kata-kata yang akan kulontarkan mengenai 'bagaimana perasaanmu di SMA Muthahhari'. Mungkin untuk yang belum tahu SMA Muthahhari akan bertanya-tanya 'Apa sih itu Muthahhari? Dimana sih? dst.' Aku juga punya cerita, dulu semenjak masuk Muthahhari pasti bertanya begini, "Sekolah dimana sekarang?" aku menjawab, "Muthahhari." Lawan bicaraku terlihat bingung dan bertanya lagi, "Apa itu? Pesantren?" aku menjawab 'bukan', dia bertanya lagi, "Muthahhari yang dimana ya?" aku menjawab, "Di kircon..." orang itu langsung ngeloyor pergi, mungkin yang dia pikirkan itu sebuah pesantren yang berada ditengah-tengah pasar karena kircon adalah daerah yang kacau. Wah... lucu juga kalo dipikir.

Cerita itu dimulai ketika aku sedang sibuk memilih SMA 'luar negeri' yang bagus, orang tuaku mengusulkan untuk masuk SMA ini dan itu, aku menolak karena alasan ini dan itu. Aku bingung untuk memilih, karena pada awalnya kupikir sekolah-sekolah 'luar negeri' itu buruk. Bangunannya yang kumuh, guru-gurunya yang galak, WC-nya yang 'harum' menyengat. Pikiranku mengenai sekolah seperti itu adalah buruk. Beberapa hari kemudian, beberapa hari kemudian ibuku berbincang-bincang dengan temannya, teman ibuku itu mengusulkan pada ibuku untuk memasukkanku ke SMA Plus Muthahhari, dan katanya sekolah itu bagus. Ibuku mengusulkan padaku, aku kaget "Hah? Itu pesantren bukan? Kok dari namanya kayak yang pesantren?" aku bertanya lagi, "Memangnya dimana itu?" ibuku menjawab, "Tempatnya sih... di Kircon" aku kaget, "WHATS?! Kircon!" aku sangat kaget karena yang kutahu Kircon itu tempat yang ramai, ramai dengan kendaraan, ramai dengan polusi, ramai dengan pasar, waaahh... otakku sudah tak karuan.

Esok harinya aku dan pamanku survei ke Muthahhari, perjalanan yang jauh dan akhirnya... "Jalannya yang mana, sih?" kataku, "Nih... ayo kesini" kata pamanku. Aku kaget, "He? Kok ada, ya? Sekolah dalam komplek?" kami berjalan lagi. "Sekolahnya yang mana, sih?" tanyaku. "Ini..." kata pamanku sambil menunjuk kesebuah plang yang bertuliskan 'SMA Plus Muthahhari" jujur waktu itu aku kaget sekali, "Kecil banget!" sama seperti perkataan ibuku, 'Muthahhari bangunannya kayak 3 rumah yang digabungin jadi 1.' Kami masuk kedalam gedung itu. "Tempat pendaftaran dimana, ya?" kata pamanku kepada seorang satpam yang ada disitu, bapak itu menyambut dengan ramah dan menyilahkan kami duduk disebuah ruangan, "Sebentar ya, saya panggilkan dulu yang bersangkutan" satpam itu meninggalkan kami, lalu beberapa menit kemudian seorang bapak dengan kumis rapi datang menyambut kami dengan ramah. Kami berbincang-bincang dengannya, sangat ramah dan menarik untuk diajak ngobrol, bapak itu bernama Pak Dede Anwar. Sangat menyenangkan, "Boleh tau, bapak guru apa?" tanyaku, "Saya kepala sekolah" yang kami tahu, kepala sekolahnya adalah Pak Jalalludin Rakhmat, ternyata sudah ganti, ya? Kami berpamitan, diperjalanan pulang pamanku bertanya padaku, "Gimana kesannya?" aku menjawab, "Aku mau sekolah disana."

Singkat cerita ini adalah hari pertamaku bersekolah disana, Aku mengira hari itu adalah hari yang paling buruk, soalnya aku sering liat di TV, "Siswa-siswa baru diperloncokan". Biasanya, sebelum menjadi salah satu bagian dari sekolah itu harus mengalami MOS/OSPEK, kakak-kakak kelas yang menyebalkan yang menyuruh ini itu sambil membentak. Tapi sewaktu aku menginjakkan kaki disana, berbeda sekali... kakak-kakak kelas yang menyambut dengan ramah, tak ada satupun yang diperloncokan, tak satupun menangis, tak satupun merasa jenuh, yang ada WE HAVE FUN!!!

MOS di Muthahhari dinamakan AL (Accelerated Learning), disana kita dapet banyak banget pelajaran yang menurutku menyenangkan, berguna dan menarik untuk dipelajari. Tapi aku masih merasa sendiri, soalnya kukuira disitu aku adalah satu-satunya orang Bandung (soalnya di Muthahhari mah... dari Sabang sampe Merauke juga ada). Aku tak mengira, disitu ada teman SMPku, Irena. Aku kaget bertemu dia, kukira aku satu-satunya yang tak ada teman disitu ternyata tidak.Kami mengenal satu sama lain dengan sangat cepat (ya iyalah... angkatanku aja cuma 72 orang).

Singkat cerita, esok hari adalah AL terakhir yang bertempatan di lembang. Waw! Keren sekali. Singkat cerita (lagi), esok harinya serombongan angkatan 19, yaitu angakatanku berangkat bersama dengan menggunakankendaraan yang sudah ditentukan dan diatur sedemikian rupa. Aku sudah tak sabar untuk merasakan 'sensasi' yang baru. Selama perjalanan, kami bercanda-canda dan mengobrol walaupun aku juga masih tidak terlalu mengenal semua yang berada dalam mobil itu. Disana, kami disuguhkan dengan berbagai permainan berkelompok, yang mengasah rasa kepedulian dan persahabatan dengan teman-teman baru. Bermain, membuat yel-yel kelompok, berfoto, bercanda, dan tertawa bersama. Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku.

Dirumah aku menceritakan tentang kebahagiaanku itu pada seluruh penghuni rumah, kubuka laptopku dan ku langsung ONLINE di Pesbuk (maklum, waktu itu masih kecanduan), seseorang meng-comment statusku (statusku bercerita tentang apa yang akan kulakukan hari itu), dan ternyata itu teman lamaku, dan commentnya sangat tak mengenakan hati, kira-kira seperti ini: "Mampus! Gua juga kemaren kayak gitu, terus disuruh yang aneh-aneh dan dibentak-bentak!" kujawab saja, "He? Hari gini masih dipeperloncoin? Udah gak jaman kali! Pokoknya disana, yang kami dapat hanyalah bahagia, tak ada yang menangis dan tak ada yang sakit hati, kok".

Yang paling menyenangkan sekarang di Muthahhari adalah banyak sekali hal langka yang mungkin gak akan pernah ditemuin di sekolah lain (sori bukan mau sesumbar, tapi ini kan menurutku... jadi tak apa, kan?). Di Muthahhari meskipun tempatnya yang kecil tapi menyimpan banyak sekali calon-calon orang besar, Komikus, Pelukis, Sutradara, Cameraman, dkk. Di SMPku belum pernah tuh... siswa diarahkan kepada bidangnya masing-masing (selama tidak melenceng dari jalan kebenaran) oleh guru-guru yang asik-asik. Di SMPku belum pernah tuh liat guru-guru yang deket banget sama murid, deket sih mungkin... tapi masih ada jarak antara guru dan murid, tapi di Muthahhari hal langka itu baru ku lihat, guru deket banget dengan murid sampe-sampe ikut ngumpul ngobrol dengan murid-murid (1x lagi... selama tidak melenceng dari jalan kebenaran). Dan juga belum pernah ngerasa, di SMPku kalo murid dengan guru atau dengan sekolah mempunyai masalah dengan dirinya, akan dibiarkan terus sampai si murid 'almarhum' dari sekolah itu. Tapi di disini, dibebaskan membuat forum untuk memecahkan masalah tersebut. Di SMPku belum pernah murid dibiarkan berekspresi 'seliarnya' (1x kali selama tidak melenceng dari jalan kebenaran). THANKS YA ALLAH... YOU GIVE ME A COOL SCHOOL, untukku menemukan jati diriku. Thanks Friends, you're best things that I ever get before (gak tahu benar atau salah nih...).

‘DERITA’ ORANG YANG SENENG NGEGAMBAR (?)

Aku sebagai orang yang seneng menggambar (sori bukan mau sombong :D ) suka ngerasa bingung sama temen-temen yang kurang seneng ngegambar. Pastiii... aja selalu terdengar kata-kata, "Wildan, tolong gambarin itu dong" atau "Wildan tolong gambarin ini dong" padahal aku yakin tanpaku juga mereka bisa menggambarnya.

Pernah dulu aja, waktu aku dan temanku harus membuat sebuah karya dari barang bekas dari tugas PLH. Kami membahas itu dengan serius, aku nyeletuk "Eh... memangnya barangnya akan jadi apa sih?" temanku menjawab, "Euh... Gimana, ya? Coba deh kamu gambarin!" jelas aku bingung. Dia menginstruksikannya, dan jadilah gambarnya. Setelah itu aku berpikir, "Bukannya kalo gambar begini mereka juga mereka bisa." sambil melihat sketsaku yang acak-acakan.

Yang kedua, orang yang seneng gambar selalu disalah artikan menjadi orang sangat tahu seni. Hal itu juga membuatku sangat bingung. Pernah dulu juga sewaktu didalam kelas temanku datang padaku, "Dan, lu bisa gambar, kan?" dan kujawab, "Ya... dikit-dikit sih...". "Nah... lu kan bisa gambar, gambarin grafiti dong di buku gua" katanya, aku menolak dengan sopan, "Waahh... kalo grafiti gak terlalu bisa." "Gimana sih... lu kan bisa gambar jadi lu tau seni, dong" dia tetapmemintaku, tapi tetap kutolak, karena memang aku tak bisa grafiti dan aku kurang menyukai itu. Dia pergi dengan nada marah, "Salah sendiri" kataku dalam hati. Tapi sewaktu aku melihat kebangkunya dan dia sedang membuat grafiti. "ITU BISA SENDIRI, KAN?!!" kenapa orang yang seneng gambar selalu diartikan dengan orang yang tahu banyak tentang seni?

Yang ketiga, orang yang seneng gambar selalu dimasukan dalam acara sebagai dekor. Pernah temanku datang padaku lalu berkata, "Wildan... untuk acara OSIS ini kamu jadi bagian dekor." aku nyeletuk, "Kenapa harus aku yang dekor?" begini jawabnya, "Kan kamu bisa gambar... makanya jadi dekor aja di dekor juga sudah ada 'ini' dan 'itu' (nama temanku). Aku akhirnya setuju saja, begitu melaksanakan tugas aku berpikir, "Eh... kerjaan gini mah... orang yang gak bisa gambar juga pastinya bisa." aku mengerjakannya dengan penuh kebingungan dalam hati.

Yah, tapi memang itulah resiko jadi orang ganteng (eh salah, orang yang seneng gambar, ding...). Sebenernya aku juga adalah orang yang masih belajar untuk bisa menggambar, kok. Kalau orang yang seneng gambar sering diartikan orang yang tahu banyak tentang seni, ya alhamdulillah... kalo orang yang seneng gambar selalu di kasih kerjaan-kerjaan ngegambar oleh temen atau guru-gurunya, ya... terimakasih, berarti kalian percaya padaku. Tapi yang aku masih bingung, kenapa orang yang kurang seneng ngegambar suka ngandelin orang yang bisa gambar untuk ngegambar suatu gambar yang sebenernya mereka juga bisa gambar?