“Aku tak peduli dengan orang yang tak peduli, aku tak mau dengan orang yang tak mau, dan aku akan acuh pada orang yang acuh.” Itu adalah motto hidupku sewaktu aku adalah orang yang cukup ‘waras’ untuk berfikir.
Aku memang adalah orang yang sedikit kaku untuk bersosialisasi, aku memang orang yang sangat acuh pada keadaan dan ingin berjuang sendirian tanpa ada orang-orang yang sebenarnya harus dirubah pola pikirnya, aku ingin hidup bersama orang-orang yang kusanyangi tanpa ada satupun orang yang menghentikan langkahku. Aku sadar, dalam hidup untuk mencapai sebuah kemenangan pasti ada kepahitan disana, tapi aku sangat menginginkan apa yang aku katakan tadi, dan itu jelas tak mungkin terjadi. Memang motto hidupku yang dulu seperti itu, mungkin aku bisa begitu karena aku tidak percaya pada siapa-siapa, dulu kunilai orang-orang dalam hidupku itu adalah pengganggu dan sangat tak bisa kupercayai, bahkan sering menyakitkan hati. Baik itu teman, guru, adik, bahkan keluarga. Tapi, satu orang berhasil mengubah pola pikirku…
Akhir-akhir ini aku sangat depresi, aku membenci kelasku sendiri karena ketidak seriusan mereka dalam belajar dikelas, yang kerjanya hanya ribut tanpa sama sekali menghargai guru yang sedang mengajar dan tidak hanya itu, banyak keonaran yang diperbuat sehingga seluruh warga disekolahku mengecap bahwa kelasku adalah kelas terburuk. Itu membuatku segan menjadi salah satu anggota dari kelasku, saat itulah aku mendeklarasikan motto hidupku. Beberapa waktu yang lalu, wali kelasku sudah dibikin jengkel bukan main oleh kami, dan segera merombak struktur keorganisasian kelas, aku berharap akan terjadinya perubahan. Aku terpilih dan dalam organisasi kelas yang baru, mereka bilang mereka akan berubah dan membangkitkan nama kelas yang sudah karam itu.
Buktinya masih kosong, mereka mengabaikannya. Aku memilih untuk tidak mau banyak bersosialisasi dengan beberapa orang sekelasku dan lebih baik berkawan dengan kawan yang berbeda kelas, memang kawanku yang berbeda kelas memang banyak ketimbang orang-orang dikelasku. Aku sangat acuh dengan kelasku, “Masa bodoh kelasku mau seperti apa, yang penting aku harus berjuang sendiri menghadang arus ini” pikirku dalam hati.
Suatu hari, aku diajak untuk bergabung dalam film yang akan dibuat kakak kelasku, katanya film ini adalah film angkatan yang akan dikenang selamanya, begitu katanya dan aku setuju saja. Disuatu siang, dikantin sekolah temanku sedang mengobrol dengan kakak kelasku itu, dia terlihat sedang berdebat. Aku tak mengerti apa yang mereka perbincangkan, didalam kelas aku bertanya padanya, “Tadi apaan sih yang diobrolin dikantin?” “Itu, dia ngajak main film tapi dengan cara maksa ya… gimana lagi…” jawabnya.
Pulangnya, aku harus rapat dulu dengan sebuah klub yang bertemakan kreatifitas. Klub itu akan menyelenggarakan acara dalam waktu yang dekat ini. Aku adalah ketua dalam acara tersebut, aku akui aku masih kaku untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, aku belum bisa memutuskan secara benar. Memang aku selalu ingin jadi pemimpin, tapi hanya saja aku belum tahu ilmunya. Aku akui, aku masih sering bicara saja tapi tidak bertindak benar.
Selesai rapat itu, aku bertemu dengan kakak kelasku, “Sudah kuputuskan, untuk film nanti aku gak akan mengajak kelas sepuluh lagi. Dan kamu jadi pemerannya ya” Katanya dengan nada kecewa, karena mengetahui hanya ada sedikit kelas sepuluh yang ikut dalam film angkatan yang ingin dia buat. “Sudah kubilang, kebanyakan dari kelas sepuluh sekarang adalah orang-orang yang gak kreatif dan gak mau kreatif.” Keluhku. Dengan spontan dia menjawab, “Lalu kenapa? Kenapa kamu gak mengajak mereka untuk kreatif?” “Karena itu, banyak sekali orang yang begitu, apalagi dikelasku. Mungkin dari seluruh kelas sepuluh ada yang harus dikurangi.” Ujarku. “Kenapa dikurang? Ditambah dong!” jawabnya. Aku kebingungan dengan jawabannya.
“Kenapa angkatan kalian kayak gitu?” aku menggeleng bingung. “Soalnya diangkatan kamu gak ada orang kayak kita” ujarnya. “Apa maksudnya?” tanyaku bingung, “Ya kayak kita, gila…” “Gila?” aku bertanya dalam hati. “Di angkatan kamu gak ada penggerak sih… penggerak yang mengajak seseorang untuk keluar dari kebiasaan, coba aja… pernah gak di angkatan kalian waktu nasyid sampe solat segala ditengah panggung?” kata kakak kelasku, “Atau pernah gak shalawatan sambil nari-nari gak jelas ditengah panggung?” kata kakak kelasku yang satu lagi. Itu hal tergila yang pernah kudengar, aku sangat terinspirasi oleh kata-katanya.
Mulai detik ini akan kuubah motto hidupku menjadi, ‘Akan kucoba menjadi penggerak bagi mereka.’ Mungkin kata-kata itu saja yang bisa kutambahkan, aku tahu waktuku dikelas XA tinggal 4 bulan lagi, akan kucoba untuk menjadi penggerak mereka walaupun kutahu dalam waktu yang 4 bulan ini tidaklah mudah. Terima kasih sudah mengubahku, aku ingin seperti kalian, seorang yang gila, seseorang yang gila tapi waras. Aku sadar, tak ada orang bisa merubah suatu keadaan sendirian. Aku sadar, tak bisa seseorang lari begitu saja dari suatu keanggotaan hanya karena beberapa orang bermasalah baginya. Terima kasih sudah menginspirasiku AHMAD ZAKI GHIFARI-senpai dan KASYFURRAHMAN-senpai…
TERIMA KASIH TELAH MENGUBAH POLA PIKIRKU
WIND OF CHANGE
SELALU BERSAMA KITA
Ayo semangat Wildaan :D
BalasHapusEits
BalasHapusAing eksis
yosh, thank you brother
BalasHapusberjuanglah wlidan
BalasHapus