("Ternyata begitu, ya? Lebih baik menjadi sahabat saja, satu hal yang aku pelajari, terlalu berharap akan menimbulkan stress." Haerul mendekatinya, "Gimana berhasil gak?" Ridwan menjawab, "Gak" "Hah... kenapa?" tanya Haerul, Ridwan menjawab, "Karena... itulah alasanku memilih sendirian..." Ridwan melanjutkan langkahnya lagi. Haerul bingung, dan segera mengejar Ridwan.)
"Wan! Kenapa sih kok kamu gitu? Ada masalah lagi? Si Linda gak nerima kamu, ya?" kata Haerul sangat penasaran. "Gak, kok... aku gak menyatakan cinta ke dia..." ujar Ridwan tenang sambil terus berjalan. "Kok gitu sih? Bukannya kamu suka ke dia, kan?" Haerul masih sangat menunggu jawaban yang sesungguhnya dari mulut Ridwan. "Haha... itu...aku baru sadar, teman... kalau seandainya aku kemaren nembak dia, mungkin aku akan menghancurkan hidupnya... Sudah, ya... bosen ngobrolin itu mulu, kita ke kantin, yuk!" kata Ridwan dengan santainya. "Enggak ah... aku masih kenyang, kamu aja deh..." kata Haerul bingung mendengar perkataan temannya itu, Ridwan meninggalkannya.
Di kelas, saat pelajaran Fisika. "Hehehe... dia memperhatikanku..." kata seorang murid bernama Nita yang wajahnya 'unik'. "Kenapa dengan anak itu, ya? Aku jadi kasihan melihatnya murung terus..." mata Haerul terus tertuju pada Ridwan dengan pikiran-pikirannya itu. "Apakah dia depresi berat, ya? Karena gak diterima si Linda?" gumam Haerul. Tiba-tiba... "Haerul!!!" Haerul terkaget karena bu guru menegurnya... "Coba jawab pertanyaan ini" kata Bu guru. "Eh... euh... itu..." "Makanya perhatiin! Liat apa sih kamu? Kan kasihan si Nita di liatin terus, kalau suka ngomong aja langsung..." kata bu guru, wajah Nita memerah... "APAAN??!!! ENGGAK KOK!!!!" Haerul sangat malu karena teman-teman sekelas menertawainya. "Ah... ibu... aku kan jadi malu..." kata Nita yang sudah GR, "NO!!!!" protes Haerul.
Pulang sekolah, Haerul menyusul Ridwan yang sedang berjalan menuju pintu gerbang sekolah. "Wan, Wan... aku pengen ngobrol sama kamu nih..." kata Haerul dengan terengah-engah. "Apaan? Lo pengen nembak si Nita, ya?" kata Ridwan sembari cekikikan. "Sekali lagi lo ngomong gitu, ni sepatu udah siap melayang dimuka lo!" kata Haerul sedikit sebal. Mereka berjalan ke gerbang sekolah bersama, "Kenapa? Tadi kamu pengen ngobrol apa?" tanya Ridwan. "Sebenernya ada apa sih hari ini kamu?" tanya Haerul, "Enggak tuh... gak ada apa-apa..." balas Ridwan. "Sebenernya kamu diterima gak sih sama si Linda?" tanya Haerul. "Kan sudah kubilang, aku gak nembak dia... kalo aku nembak dia mungkin aku akan merusak kehidupannya, aku hanya gak mau merusak kehidupannya..." jawab Ridwan tenang. "Merusak? Apa maksudnya?" gumam Haerul.
Mereka berdua pergi ke sebuah Warteg dan memesan makanan, "Kan disini enak... kita ngobrolnya..." kata Ridwan dengan nasi di mulutnya. Haerul tersenyum, "Hei... aku masih gak ngerti maksudmu apa? Merusak kehidupannya? Apa maksudmu?" tanya Haerul. Ridwan meneguk air yang sudah disediakan, "Itu... kamu gak tau, ya? Kalau si Linda menyukai seseorang?" Haerul menggeleng. "Itulah... dia menyukai kak Amran... coba pikirkan, kalau aku kemarin nembak dia... pasti ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin aku tidak diterima dan yang kedua aku diterima tapi pastinya dia masih mengharapkan kak Amran... dan dari kemungkinan kedua itu pasti menghasilkan satu hal, yaitu... mungkin aku dan dia tak akan lama." jelas Ridwan sambil menyuap nasi kemulutnya.
Haerul mendengarkannya dengan seksama lalu menelan makanannya secara pelan-pelan. "Terus kamu gimana?" "Gimana apanya?" jawab Ridwan. "Ya... perasaanmu terhadapnya?" "Ooohhh itu.... aku cuma punya satu jawaban... aku ingin melupakannya..." jawab Ridwan sambil tersenyum, perasaan Haerul menjadi semakin kacau. "Huah... kenyang... berapa bu?" kata Ridwan sambil membuka dompetnya. "Tujuh ribu..." Ridwan memberikan uangnya, "Rul, mau pulang bareng?" ajak Ridwan. "Enggak ah... kamu duluan aja, aku masih mau disini..." "Yaudah... duluan, ya!" Ridwan meninggalkan Warteg tersebut. Haerul terus memikirkan kata-kata Ridwan dengan serius, makanannya belum sempat dihabiskannya. Tiba-tiba... "Sep, sampai mau kapan disini? Udah malem nih..." kata pemilik Warteg. "Udah malem? Bukannya masih siang?" jawab Haerul bingung. Betapa terkejutnya ketika ia melihat keluar, "SUDAH MALAM????" Haerul buru-buru menghabiskan makanannya, segera membayar, dan berlari menuju rumah.
Esok harinya, "Ternyata si Ridwan kayaknya udah sebel sama si Linda deh, kasihan banget dia... gak diterima langsung ingin melupakannya.." pikir Haerul dalam hati selalu. Dalam pikiran Haerul, Ridwan amat membenci Linda karena gak diterima cintanya. Beberapa minggu kemudian, diselenggarakan pertandingan kesenian dari sebuah Universitas terkenal di Bandung, Haerul selalu memperhatikan Ridwan. Dalam pertandingan itu, Ridwan dan Linda berada dalam satu regu mereka saling menyemangati satu sama lain dan mereka sangat kompak. Haerul merasa aneh, "Bukannya si Ridwan benci sama si Linda? Tapi kok...?" pikirannya terus mengganggunya.
Ridwan dan Linda masuk sepuluh besar, tapi tidak mendapatkan juara, meskipun begitu... mereka saling menyemangati satu sama lain. Pada suatu hari, Haerul bertanya pada Ridwan. "Wan, katanya dulu kamu membenci si Linda? Tapi kok..." "Benci? Kata siapa?" jawab Ridwan. "Itu, loh... waktu obrolan kita di Warteg dulu, kamu inget gak?" kata Haerul mencoba mengingatkan, "Enggak deh... aku gak ngomong benci, kok... aku kan bilang aku mau melupakannya..." "Bukannya itu sama saja dengan membenci?" tanya Haerul. "Hehe... Mindsetmu harus dirubah tuh... kan aku bilang melupakan bukan membenci, melupakan bukan berarti membenci kan?" jelas Ridwan.
Haerul masih mencerna apa yang dikatakan Ridwan, "Gini deh... sebenernya yang aku mau lupakan bukan sosoknya, tapi perasaanku terhadapnya... menjadi sahabat tidak buruk kan?" jelas Ridwan sambil nyengir. Kini Haerul baru mengerti maksud Ridwan selama ini, tiba-tiba Linda datang menghampiri mereka, "Eh ada Haerul... ayo kita pulang, sampai kapan kita mau disekolah terus?" ajak Linda. "Hahaha... benar ayo kita pulang!" balas Ridwan. Hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi mereka, "Hehehe... sebenernya aku masih menyukai Linda sih... aku juga masih mengharapkan perasaan Linda padaku, sih... akan kubuktikan padanya kalau aku pantas..." gumam Ridwan dalam hati sambil senyum-senyum.
TAMAT
terharu......
BalasHapuskalimatnya bagus banget
aku hanya melupakan perasaan suka padanya
bukan melupakan sosoknya.
keren lah...^_^
sedang belajar membuat novel ya?!
BalasHapushaha berusaha ya...^_^
ya, trims fitri
BalasHapus