“Si Ridwan mana, ya? Katanya mau pulang bareng? Kemana tuh anak?” kata Haerul agak kesal. Haerul menyusuri koridor sekolah, kantin, perpustakan. “Ngapain aku ke perpus? Dia kan jarang baca buku?” Haerul keluar dari perpustakaan sekolah. Haerul mulai mencari temannya itu , dia menemukannya sedang tidur-tiduran di pekarangan belakang sekolah yang penuh dengan rumput yang empuk apa bila tidur diatasnya. “Itu, kan si Ridwan, ngapain dia disitu?” gumam Haerul. “Wan! Dicariin kemana-mana, taunya ada disini… lagi ngapain sih?” kata Haerul menghampiri Ridwan yang sedang melamun. Ridwan tersadar dan menoleh kearah Haerul sambil nyengir.
“Tumben disini, ada apa?” Haerul duduk disamping Ridwan. “Rul, tadi aku membayangkan waktu dulu kita SD, aku membayangkan ‘insiden’ itu…” kata Ridwan melanjutkan tidur-tiduran dan melipat kedua tangannya dibawah kepalanya. “Insiden? Insiden apa? Eh! Ooo… insiden itu, ya? Hahaha” kata Haerul. Angin berhembus lembut, membelai pipi-pipi kecil itu. Bau rerumputan disore hari membuat ingin mengingat kenangan indah itu. Haerul berbaring disebelah Ridwan sambil melipat kedua tangannya dibawah kepalanya. “Kalau diingat-ingat, hari itu seperti hari ini…” Ridwan menghirup udara yang bercampur dengan bau rerumputan itu. Angin sepoi-sepoi membelai wajah-wajah itu, seakan mereka sedang tidur dalam pangkuan alam.
Kejadian itu terjadi ketika mereka kelas empat SD. Saat-saat Ridwan dan Haerul mulai bersahabat. Ridwan adalah murid yang biasa dan polos. “Sana! Kamu bukan bagian dari kami!” kata Doni mengusirnya. Doni adalah murid yang terkenal di SDnya itu. “Memangnya kenapa kalau aku bergabung disini?” Tanya Ridwan polos. “Kamu kan gak pinter! Disini, kan perkumpulan orang-orang pinter dan eksis, sementara kamu apa, sih?” kata Aldi salah satu temannya Doni. “Pergi sana! Kamu gak boleh masuk sini!” usir Rival. Ridwan merasa sangat sedih, dia pergi meninggalkan perkumpulan itu.
Hal yang membuat Ridwan sangat sedih adalah disekolah itu sangatlah mengutamakan perbedaan, antara yang pintar dan eksis dengan orang yang biasa saja. Saat itu Ridwan dinilai oleh teman-temannya sebagai anak yang biasa saja. Dia dipisahkan oleh teman-temannya, dia tak boleh berteman dengan anak yang pintar dan eksis dia hanya boleh berteman hanya dengan yang biasa saja. Tapi dia merasa tak cocok berteman dengan anak yang biasa saja karena dinilai tidak punya kreatifitas dan menurut para guru dan teman-temanya mereka adalah anak yang bandel dan tidak mau diatur, oleh karena itu dia memisahkan diri dari kelompok anak biasa saja.
Pada suatu hari, Rival sangat gelisah karena pensil yang dia sangat sanyangi hilang dikelas. Saat itu hanya ada Ridwan yang sedang menulis dengan pensil yang kelihatan mirip dengan punya Rival. Rival menghampiri Ridwan dan memukulkan tangannya kemeja, hal itu membuat Ridwan kaget. “Siniin pensil aku!” kata Rival dengan lantangnya. “Apa? Ini punyaku…” kata Ridwan sembari menyembunyikan pensilnya. “Mana liat!” Rival berusaha merebut pensil Ridwan. Tiba-tiba datang Aldi dan Doni, Rival berhasil merebut pensilnya. “Apaan sih, Val?” kata Doni dan Aldi. “Liat si Ridwan nyuri pensilku!” “Itu pensilku!” bantah Ridwan. “Coba liat nih! Pensilku udah kuberi tanda merah di ujungnya!” kata Rival mencoba membuktikan. “Gimana, sih? Kenapa sih kamu suka nyuri barang orang lain?” “Nggak… itu pensilku!” mata Ridwan berkaca-kaca, dia mencoba menahan tangis. Tiba-tiba dari luar segerombolan orang malah menyoraki Ridwan dan mendukung Rival. Ridwan tak bisa lagi menahan air matanya.
Dia hanya tertunduk, air matanya menetes bagi hujan kecil. “Aku tak boleh melapor ke guru” pikir Ridwan sambil terus menahan tangisnya. Baginya, melapor ke guru hanyalah perbuatan yang bodoh dan tak menghasilkan. Karena pernah sekali dia melaporkan hal yang serupa pada guru tapi guru hanya menanggapi sebagai hal biasa. Guru hanya menyuruh mereka bermaafan dan berjanji takkan mengulangi, tapi itu sama seperti biasa. Oleh karena itu dia memilih untuk menyimpannya sendiri.
Esok harinya, “Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru, pindahan dan Jogja. Silakan perkenalkan dirimu pada teman-teman.” Kata bu guru. “Halo, namaku Haerul, senang berkenalan dengan kalian…” “Senang berkenalan denganmu juga…” jawab semua murid. “Nah… kamu boleh duduk disebelah Ridwan disebelah sana” Haerul berjalan menuju bangku Ridwan dan duduk disebelahnya. “Namaku Haerul” kata Haerul sambil mengulurkan tangannya, Ridwan membalasnya dengan senyum masam “Aku Ridwan” mereka berjabat tangan.
Bel istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar kelas. Haerul berjalan kepintu keluar sambil membawa kotak bekalnya, dia menoleh kearah Ridwan yang masih duduk dibangkunya, sendirian… sambil meminum air minum yang dia bawa dari rumah. Haerul menghampiri Ridwan, “Eeehh… kok gak keluar kayak teman-teman yang lain?” Tanya Haerul. Ridwan menggeleng lalu merogoh sakunya dan yang dia menemukan sekeping uang lima ratus rupiah lalu menghela napas panjang. Haerul masih disitu memperhatikannya, terdengar bunyi perut Ridwan yang keroncongan, Ridwan segera memegangi perutnya. “Kamu laper? Ini… ambillah, gak apa-apa kok…” Haerul memberikan roti bekalnya. Ridwan menggeleng, “Eehhh… gak apa-apa kok… aku masih kenyang kok” Haerul masih menawarkan bekalnya. Ridwan menatap kearah Haerul yang tersenyum, “Ayo ambil aja… gak apa-apa kok…” Ridwan mulai memberanikan diri mengambil roti tersebut.
“Kita bagi dua aja, ya?” kata Ridwan, Haerul mengangguk, Ridwan membelah roti itu menjadi dua bagian. Ridwan memakannya dengan lugu, Haerul tersenyum. “Kenapa sih kamu kok menyendiri terus? Gak main sama yang lain?” Tanya Haerul, dia ragu untuk menjawabnya, Haerul masih menunggunya. Ridwan akhirnya mau menjawab, dia menceritakan alasannya, Haerul begitu terkejut. “Meskipun gitu… aku mau, kok jadi sahabatmu. Kalau suasana kelas ini menurutmu bukan suasana kelasmu, janganlah menunggu kelas ini untuk merubah sikapnya padamu. Tapi ubahlah sikapmu pada kelas ini, sehingga kamu bisa diakui dikelas ini.” kata Haerul sambil nyengir. Ridwan sangat senang sekali, karena baru kali ini mendapatkan teman yang sangat mengerti dirinya. Ridwan menangis karena senang, “Eeehhh… jangan nangis dong! Laki-laki kok nangis?” kata Haerul, “Ma… maaf aku nangis karena senang…” jawab Ridwan sembari nyengir dan menahan tangis. Mereka tertawa lebar, seakan hari baru untuk Ridwan telah dating.
Esok harinya, Ridwan mencoba mempraktekan ‘tips’ dari Haerul. Ridwan menjadi aktif dikelasnya, bertanya, menjawab pertanyaan, dan sering memberikan lelucon yang menggelikan. Lambat laun, suasana kelas mulai berubah seratus delapan puluh derajat, lambat laun banyak teman-teman yang mendekati Ridwan, dia tidak merasakan lagi yang namanya ‘perbedaan kubu’ antara yang eksis dan biasa saja. Semua kecuali Aldi, Rival, dan Doni. “Cih! Si Ridwan ternyata sekarang sudah mencari sensasi, teman kita sekarang sudah mulai berkurang, kita harus bikin perhitungan.” Kata Rival, “Aku setuju, kita lakukan pulang sekolah nanti, gimana?” kata Aldi. “Setuju” jawab Doni.
Bel pulang berbunyi, semua murid berhamburan menuju rumah masing-masing, Haerul masih menunggu Ridwan yang sedang membereskan buku-bukunya. “Pulang duluan ya Wan, Rul…” kata teman-teman yang lain. Ridwan membalasnya dengan senyum. “Yo Wan, kita pulang” ajak Haerul yang sudah menunggu di pintu keluar. “Ayo” Ridwan menggendong tasnya yang berat itu, “Bawa apaan sih kok berat gitu?” “Buku” “Perasaan hari ini bukunya ringan-ringan, deh” kata Haerul. “Buku pelajaran sama buku komik hehe…” jawab Ridwan sambil nyengir. Haerul bingung, “Aku punya komik Rajawali Man edisi terbaru, loh… mau pinjem?” “Heh? Boleh juga tuh… pinjem dong” mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
Di gerbang sekolah mereka dicegat oleh Aldi, Rival, dan Doni. “Mau kemana kalian?” kata Rival dengan lagak sok jago. “Ada apa kalian ini?” Tanya Ridwan. “Alaaahh… jangan sok jago kamu! Kita mau bikin perhitungan sama kamu!” kata Doni. “Kami gak punya urusan dengan kecoak sok jago kayak kalian ini, makanya minggir.” Kata Haerul yang sudah kesal. “Berani sekali kamu!” Aldi menendang perut Haerul dengan lututnya, Haerul merasakan sakit yang sangat sehingga dia mau muntah. Aldi dan Rival menangkap Haerul dan menjaganya supaya tidak kabur. Doni menarik kerah Ridwan dengan keras, “Awas kamu! Jangan coba-coba cari sensasi di kelas, ya! Kalo sekali lagi gitu…” Doni mengepalkan tangannya ke wajah Ridwan seolah mengancam, Doni dan kawan-kawannya pergi meninggalkan mereka, Ridwan sangat ketakutan, dadanya berdebar cepat. “Kamu gak apa-apa?” Ridwan membantu Haerul yang kesakitan. “Gak apa-apa kok… jangan kuatir” kata Haerul tersenyum menahan sakit.
Mereka pulang bersama-sama. Dijalan, mereka melihat Doni dan kawan-kawannya sedang dicegat oleh seorang preman. “Eh? Itu kan Doni dan kawan-kawan… kita tolong yuk!” ajak Ridwan pada Haerul. “Ah… ngapain juga nolong mereka? Gak ada untungnya juga.” Ridwan tak menghiraukan perkataan Haerul dia berlari menuju mereka. “Bocah tengik! Cepet kasih gua lima rebu! Gimana sih gitu aja gak punya! Cepet!” kata preman itu. “Gak ada bang, kita gak punya duit segitu.” Kata Doni dan kawan-kawan. “Eh sialan nih bocah! Berani nolak lu! Punya nyali gede lu, bocah!” Ridwan menghampiri mereka. Doni dan kawan-kawan menoleh kearahnya. “Ni apaan bocah satu? Ngapain lu kemari? Cari masalah sama gua lo?” kata preman itu marah. “Oom kok malakin anak SD? Gak baik tuh…” kata Ridwan yang masih ketakutan, “Emang kenapa? Suka-suka gua dong…” jawab preman itu. “Malak orang kan gak baik… di Al-Qur’an juga udah dikatakan kalo mencuri perbuatan dosa, bisa masuk neraka.” Preman itu terkejut, dia panik. Hal itu membuat Ridwan menjadi lebih memberanikan diri, dia melangkah maju.
“Terus orang yang suka mencuri itu, waktu dia didalam kuburnya bakal susah untuk ngejawab pertanyaan dari malaikat, ‘Siapa tuhanmu?’ terus orang yang suka mencuri itu menjawab, ‘Aku gak tau’…” Preman itu mundur sambil menutupi telinganya, “Berhenti cerita bocah!” Preman itu ketakutan bukan main. “Di dalam dalem kuburnya sendirian, gelap, gak ada yang menemani, tiba-tiba dateng seseorang yang bertampang buruk dan busuk menghampirinya. Orang suka mencuri itu bertanya, ‘Siapa kamu?’ orang buruk itu menjawab, ‘Akulah wujud dari perbuatanmu didunia.” Ridwan terus melanjutkan ceritanya sambil terus melangkah kedepan. Preman itu menangis dan berlutut didepan Ridwan, “Maafin gua, gua gak mau hal itu terjadi ke gua.” “Makanya setelah ini oom berhenti jadi preman terus ganti ke pekerjaan yang lebih baik lagi, ya!” kata Ridwan. Akhirnya preman itu lari terbirit-birit.
“Mulai saat itu kehidupanku berubah, mereka meminta maaf dan tak ada lagi yang namanya kubu eksis dan biasa saja.” Ridwan menghela nafas lalu tersenyum lebar. “Bukannya kamu bilang ingin melupakan kenangan itu, Wan?” kata Haerul. “Memang, sih… tapi kan kenangan juga perlu dikenang, kenangan baik untuk motivasi kita dan juga bisa diceritakan pada orang banyak. Kenangan buruk juga gak selamanya buruk, mungkin saat itu memang terasa buruk, tapi beberapa tahun kemudian hal itu terasa lucu, kita bisa mengubah hidup kita kedepan dengan pengalaman buruk itu, teman…” jawab Ridwan. “Haaahhh… dasar Ridwan, kamu memang orang yang penuh dengan rahasia yang sulit dibaca orang, ya?!” kata Haerul sambil menggelengkan kepala. “Eh, ini kan udah magrib! Ayo kita pulang! Gawat nih… sampe rumah pasti dimarahin, nih…” “Kamu, sih… ayo pulang!” Mereka berlari menuju rumah mereka masing-masing
TAMAT
Anak SD nya kebanyakan nonton sinetron
BalasHapus