Masa SMA adalah masa yang menyenangkan. Itulah mungkin kata-kata yang akan kulontarkan mengenai 'bagaimana perasaanmu di SMA Muthahhari'. Mungkin untuk yang belum tahu SMA Muthahhari akan bertanya-tanya 'Apa sih itu Muthahhari? Dimana sih? dst.' Aku juga punya cerita, dulu semenjak masuk Muthahhari pasti bertanya begini, "Sekolah dimana sekarang?" aku menjawab, "Muthahhari." Lawan bicaraku terlihat bingung dan bertanya lagi, "Apa itu? Pesantren?" aku menjawab 'bukan', dia bertanya lagi, "Muthahhari yang dimana ya?" aku menjawab, "Di kircon..." orang itu langsung ngeloyor pergi, mungkin yang dia pikirkan itu sebuah pesantren yang berada ditengah-tengah pasar karena kircon adalah daerah yang kacau. Wah... lucu juga kalo dipikir.
Cerita itu dimulai ketika aku sedang sibuk memilih SMA 'luar negeri' yang bagus, orang tuaku mengusulkan untuk masuk SMA ini dan itu, aku menolak karena alasan ini dan itu. Aku bingung untuk memilih, karena pada awalnya kupikir sekolah-sekolah 'luar negeri' itu buruk. Bangunannya yang kumuh, guru-gurunya yang galak, WC-nya yang 'harum' menyengat. Pikiranku mengenai sekolah seperti itu adalah buruk. Beberapa hari kemudian, beberapa hari kemudian ibuku berbincang-bincang dengan temannya, teman ibuku itu mengusulkan pada ibuku untuk memasukkanku ke SMA Plus Muthahhari, dan katanya sekolah itu bagus. Ibuku mengusulkan padaku, aku kaget "Hah? Itu pesantren bukan? Kok dari namanya kayak yang pesantren?" aku bertanya lagi, "Memangnya dimana itu?" ibuku menjawab, "Tempatnya sih... di Kircon" aku kaget, "WHATS?! Kircon!" aku sangat kaget karena yang kutahu Kircon itu tempat yang ramai, ramai dengan kendaraan, ramai dengan polusi, ramai dengan pasar, waaahh... otakku sudah tak karuan.
Esok harinya aku dan pamanku survei ke Muthahhari, perjalanan yang jauh dan akhirnya... "Jalannya yang mana, sih?" kataku, "Nih... ayo kesini" kata pamanku. Aku kaget, "He? Kok ada, ya? Sekolah dalam komplek?" kami berjalan lagi. "Sekolahnya yang mana, sih?" tanyaku. "Ini..." kata pamanku sambil menunjuk kesebuah plang yang bertuliskan 'SMA Plus Muthahhari" jujur waktu itu aku kaget sekali, "Kecil banget!" sama seperti perkataan ibuku, 'Muthahhari bangunannya kayak 3 rumah yang digabungin jadi 1.' Kami masuk kedalam gedung itu. "Tempat pendaftaran dimana, ya?" kata pamanku kepada seorang satpam yang ada disitu, bapak itu menyambut dengan ramah dan menyilahkan kami duduk disebuah ruangan, "Sebentar ya, saya panggilkan dulu yang bersangkutan" satpam itu meninggalkan kami, lalu beberapa menit kemudian seorang bapak dengan kumis rapi datang menyambut kami dengan ramah. Kami berbincang-bincang dengannya, sangat ramah dan menarik untuk diajak ngobrol, bapak itu bernama Pak Dede Anwar. Sangat menyenangkan, "Boleh tau, bapak guru apa?" tanyaku, "Saya kepala sekolah" yang kami tahu, kepala sekolahnya adalah Pak Jalalludin Rakhmat, ternyata sudah ganti, ya? Kami berpamitan, diperjalanan pulang pamanku bertanya padaku, "Gimana kesannya?" aku menjawab, "Aku mau sekolah disana."
Singkat cerita ini adalah hari pertamaku bersekolah disana, Aku mengira hari itu adalah hari yang paling buruk, soalnya aku sering liat di TV, "Siswa-siswa baru diperloncokan". Biasanya, sebelum menjadi salah satu bagian dari sekolah itu harus mengalami MOS/OSPEK, kakak-kakak kelas yang menyebalkan yang menyuruh ini itu sambil membentak. Tapi sewaktu aku menginjakkan kaki disana, berbeda sekali... kakak-kakak kelas yang menyambut dengan ramah, tak ada satupun yang diperloncokan, tak satupun menangis, tak satupun merasa jenuh, yang ada WE HAVE FUN!!!
MOS di Muthahhari dinamakan AL (Accelerated Learning), disana kita dapet banyak banget pelajaran yang menurutku menyenangkan, berguna dan menarik untuk dipelajari. Tapi aku masih merasa sendiri, soalnya kukuira disitu aku adalah satu-satunya orang Bandung (soalnya di Muthahhari mah... dari Sabang sampe Merauke juga ada). Aku tak mengira, disitu ada teman SMPku, Irena. Aku kaget bertemu dia, kukira aku satu-satunya yang tak ada teman disitu ternyata tidak.Kami mengenal satu sama lain dengan sangat cepat (ya iyalah... angkatanku aja cuma 72 orang).
Singkat cerita, esok hari adalah AL terakhir yang bertempatan di lembang. Waw! Keren sekali. Singkat cerita (lagi), esok harinya serombongan angkatan 19, yaitu angakatanku berangkat bersama dengan menggunakankendaraan yang sudah ditentukan dan diatur sedemikian rupa. Aku sudah tak sabar untuk merasakan 'sensasi' yang baru. Selama perjalanan, kami bercanda-canda dan mengobrol walaupun aku juga masih tidak terlalu mengenal semua yang berada dalam mobil itu. Disana, kami disuguhkan dengan berbagai permainan berkelompok, yang mengasah rasa kepedulian dan persahabatan dengan teman-teman baru. Bermain, membuat yel-yel kelompok, berfoto, bercanda, dan tertawa bersama. Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku.
Dirumah aku menceritakan tentang kebahagiaanku itu pada seluruh penghuni rumah, kubuka laptopku dan ku langsung ONLINE di Pesbuk (maklum, waktu itu masih kecanduan), seseorang meng-comment statusku (statusku bercerita tentang apa yang akan kulakukan hari itu), dan ternyata itu teman lamaku, dan commentnya sangat tak mengenakan hati, kira-kira seperti ini: "Mampus! Gua juga kemaren kayak gitu, terus disuruh yang aneh-aneh dan dibentak-bentak!" kujawab saja, "He? Hari gini masih dipeperloncoin? Udah gak jaman kali! Pokoknya disana, yang kami dapat hanyalah bahagia, tak ada yang menangis dan tak ada yang sakit hati, kok".
Yang paling menyenangkan sekarang di Muthahhari adalah banyak sekali hal langka yang mungkin gak akan pernah ditemuin di sekolah lain (sori bukan mau sesumbar, tapi ini kan menurutku... jadi tak apa, kan?). Di Muthahhari meskipun tempatnya yang kecil tapi menyimpan banyak sekali calon-calon orang besar, Komikus, Pelukis, Sutradara, Cameraman, dkk. Di SMPku belum pernah tuh... siswa diarahkan kepada bidangnya masing-masing (selama tidak melenceng dari jalan kebenaran) oleh guru-guru yang asik-asik. Di SMPku belum pernah tuh liat guru-guru yang deket banget sama murid, deket sih mungkin... tapi masih ada jarak antara guru dan murid, tapi di Muthahhari hal langka itu baru ku lihat, guru deket banget dengan murid sampe-sampe ikut ngumpul ngobrol dengan murid-murid (1x lagi... selama tidak melenceng dari jalan kebenaran). Dan juga belum pernah ngerasa, di SMPku kalo murid dengan guru atau dengan sekolah mempunyai masalah dengan dirinya, akan dibiarkan terus sampai si murid 'almarhum' dari sekolah itu. Tapi di disini, dibebaskan membuat forum untuk memecahkan masalah tersebut. Di SMPku belum pernah murid dibiarkan berekspresi 'seliarnya' (1x kali selama tidak melenceng dari jalan kebenaran). THANKS YA ALLAH... YOU GIVE ME A COOL SCHOOL, untukku menemukan jati diriku. Thanks Friends, you're best things that I ever get before (gak tahu benar atau salah nih...).
Kamu beruntung
BalasHapusWaktu AL g disuruh bikin surat cinta... -___-
oh gitu? sabar aja, ya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapushai Wildan...bayarnya berapa sih di Muthhahhari. aq ada jauh di Solo, pingin juga sekolah di sana.
BalasHapus