Rabu, 02 Maret 2011

BELAJAR CINTA DARI SEEKOR KUCING

Beberapa minggu yang lalu, kucingku melahirkan 5 ekor anak kucing, yaiyalah... masa anak kambing (humor garing). Begitu melihat dia melahirkan kelima anaknya perasaanku tentu saja sangat senang. Begitu lucu melihat anak-anaknya yang lemah itu langsung mencari mencari puting susu induknya. Dan dengan ikhlas, induknya memberikan susu untuk anak-anaknya. Tak peduli walaupun harus mengorbankan waktu dan kegiatannya hanya untuk anak-anaknya. Di balik rasa senang itu terdapat rasa sedih...

Setelah itu aku berfikir "Apa yang sudah kulakukan selama ini terhadap ibuku?" pikirku. Aku merasa selama ini aku hanya menyusahkannya. Aku memang tak tahu caranya berterima kasih, setiap hari aku hanya menyusahkanmu, membuatmu marah, dan parahnya pernah dia jatuh sakit karenaku. Ya Allah... apa bisa aku mengganti semua kekesalannya dengan sesuatu yang lain? Dia yang telah ikhlas mengandungku selama 9 bulan.

Malam itu malam yang penuh bintang dan seorang insan baru lahir dengan suara tangis. Dia berbahagia karena putranya telah lahir ke muka bumi. Seseorang mendekatkan bayi itu padanya, dia mengelusnya dengan kasih sayang. Layaknya anak kucing yang baru lahir, bayi itu mencari susu dari sang ibu, dia memberikannya dengan ikhlas.

Beberapa tahun kemudian anak itu terus berkembang, sang ibu masih saja setia menjaganya di saat anak itu mulai memasuki gerbang dunia keduanya setelah rumah. Selalu saja dia pulang kerumah sambil menangis dan mengadu padanya kalau dia tadi dijahili oleh teman. Dia menghapus air matanya dan menyemangatinya, anak itu berhenti menangis...

 Beberapa tahun kemudian anak itu sudah duduk di sekolah dasar, anak itu merasa bahwa ibunya sering menghalanginya untuk berkegiatan, dia terkadang merasa terganggu oleh ibunya. Dia suka memberontak kepada ibunya, senyum sang ibu sedikit memudar....

Beberapa tahun kemudian anak itu duduk di sekolah menengah pertama, dia merasa sang ibu sudah benar-benar mengganggunya, dia merasa tertekan karena saat itu dia banyak sekali konflik dengan sang ibu karena hal sepele yang dibesar-besarkan olehnya. Pembangkang... ya, itulah 'statusnya', sang ibu sering ia sakiti oleh mulut busuknya itu. Senyum sang ibu itu memudar, terus memudar hingga tak pernah terlihat lagi senyumnya.

Awalnya anak itu merasa hebat, tapi setelah berfikir kalau perbuatannya yang selama ini salah. Dia ingin meminta maaf, tapi hati kecilnya berkata tidak, perasaan takut dan bersalah membalutnya. Hari demi hari menjadi kacau, pikirannya tak karuan. Suatu hari anak itu mencoba untuk meminta maaf pada sang ibu, dia berdiri dengan gemetar dan wajah yang tertunduk didepan ibunya, sang ibu memperhatikannya dengan bingung. Mulutnya terasa berat, dan "Ma... aku minta maaf" kata si anak dengan nada setengah menangis. Sang ibu hanya diam memperhatikannya, wajah si anak semakin tertunduk karena takut dimarahi. Dan... "Mama udah maafin kamu dari dulu, kok" sang ibu menjawabnya dengan senyuman tulus diwajahnya. Anak itu terkaget dan segera menatap ibunya, Dia menangis dan segera memeluk ibunya.

Akhirnya semenjak saat itu anak itu bertekad dalam dirinya tak akan pernah lagi mengecewakan ibunya, tapi tentunya halangan selalu ada saat seseorang sudah berniat baik. Anak itu akan selalu berusaha, dan anak itu... adalah AKU. Rasanya belum ada jasa-jasanya yang kuganti, ibuku pernah berkata padaku, "Mama gak akan meminta apapun darimu, pokoknya ambil jalan hidup yang kau pilih sendiri dan buktikan kamu berprestasi dibidang yang kamu tekuni." 'Walaupun kubayar semua kasih sayang itu sebesar samudra pasifik, itu takkan bisa menandingi rasa sayangnya yang besarnya melebihi itu.'

Ketika kulihat lagi kucing-kucing yang berada dalam keranjang itu, induk kucing itu menjilati anak-anak, membersihkan tubuh mereka dari sesuatu yang kotor. Terasa lucu, sementara anak-anak kucing itu menyusu pada induknya, si induk mendengkur tanda bahagia. Bisa kusimpulkan, "Kalau kucing saja bisa menyayangi satu sama lain, mengapa kita tidak. Dan seburuk-buruknya ibu, dia masih ibu kita yang harus kita hormati dan sayangi."

TAMAT

3 komentar: